Benteng Baluwerti, Keraton Kasultanan Yogyakarta

Keraton Kasultanan Yogyakarta dikelilingi oleh sebuah benteng yang didirikan sebagai sarana pertahanan serta untuk mengantisipasi serangan musuh dari luar wilayah Keraton. Benteng ini dinamai Benteng Baluwerti, yang berarti jatuhnya peluru laksana hujan.

Click here to read more »

Riwayat Prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta

19_riwayat_prajurit.jpg

Pada paruh akhir abad ke-18, Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki pasukan bersenjata yang cukup disegani kekuatannya. Pasukan ini terdiri dari pasukan infanteri dan kavaleri yang sudah dilengkapi dengan senapan api dan meriam, disamping berbagai senjata tradisional seperti pedang, tombak dan panah. Adanya pasukan ini tidak terlepas dari keberadaan para prajurit dan laskar-laskar rakyat yang menjadi pendukung setia Pangeran Mangkubumi yang di kemudian hari bertahta sebagai Sultan Hamengku Buwono I. Menjelang berdirinya Kasultanan Yogyakarta, kekuatan bersenjata dibawah pimpinan Pangeran Mangkubumi, diakui kekuatannya saat menghadapi berbagai pemberontakan di Kasunanan Surakarta. Pasukan ini juga gigih melakukan perlawanan terhadap tentara Kompeni Belanda.

Click here to read more »

Profil Prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta [Bagian 1]

20_profil_prajurit.jpg

Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki kesatuan-kesatuan prajurit yang disebut bregada. Saat ini terdapat 10 bregada prajurit, yaitu : Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaheng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Nyutro, Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Setiap bregada dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kapten, didampingi oleh seorang perwira berpangkat Panji, yang bertugas untuk mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Setiap Panji didampingi oleh seorang Wakil Panji. Sementara regu-regu dalam setiap bregada dipimpin oleh seorang bintara berpangkat Sersan. Keseluruhan perwira dalam semua bregada dipimpin oleh seorang Pandega. Pucuk pimpinan tertinggi keseluruhan bregada prajurit Keraton adalah seorang Manggalayudha. Click here to read more »

Profil Prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta [Bagian 2]

21_profil_prajurit.jpg

Yang tampil pada urutan berikutnya adalah Bregada Prajurit Mantrijero. Pada jamannya, Bregada Prajurit Mantrijero beranggotakan menteri-menteri di Keraton yang bertugas sebagai hakim yang memutuskan perkara. Tugasnya sebagai pengawal Sultan pada saat diselenggarakannya Upacara Jumenengan Dalem Nata di Bangsal Sitihinggil. Prajurit Mantrijero berseragam sikepan dan celana panji dengan corak lurik khas Mantrijero, sepatu model pantopel berwarna hitam dengan kaos kaki warna putih, serta topi berbentuk songkok berwarna hitam. Benderanya bernama Purnamasidi, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Cokro. Korps musik dalam bregada ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling, dan terompet yang mengumandangkan lagu Plangkeman, Slagunder dan Mars Stok. Bregada Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan senjata berupa senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata “Joyo, Bahu, Prawiro atau Rono”. Click here to read more »

Gunungan, Ciri Khas Upacara Garebeg

Upacara Garebeg di Kasultanan Yogyakarta diselenggarakan 3 kali dalam satu tahun pada bulan Syawal, bulan Besar dan bulan Maulud dalam penanggalan Jawa, bertepatan dengan hari-hari besar Islam. Upacara Garebeg Maulud yang diselenggarakan setiap tanggal 12 bulan Maulud – yang bertepatan dengan bulan Rabi’ul Awal dalam penanggalan Islam, merupakan puncak perayaan Sekaten yang diselenggarakan di Keraton Kasultanan Yogyakarta untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi wa Sallam. Click here to read more »

A Beginner’s Guide to Creative Videography

Jogja - Stasiun Maguwo LamaSelamat datang di dunia videografi. Sebuah dunia yang sangat menyenangkan, penuh daya tarik, menantang kreatifitas, dan membantu kita dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Dengan teknik videografi yang kreatif dan komunikatif, kita bisa mengabadikan beragam peristiwa di sekitar kita, menciptakan beragam karya dan media yang bukan saja bisa dipandang, namun juga didengar. Dengannya, kita bisa bercerita, berbagi informasi, menghibur, menularkan pengetahuan, bahkan mempengaruhi orang lain.Bagaimana menciptakan karya videografi yang kreatif, komunikatif dan layak ditonton ? Click here to read more »

Videografer: Amatir vs. Profesional

HandheldVideografer Amatir atau Videografer Profesional, sebetulnya hanyalah istilah dan status semata. Sayangnya, seolah ada anggapan jika videografer amatir hasilnya pasti tidak bagus. Dan karena merasa hanya amatiran, seseorang merasa sah-sah saja jika rekaman videonya tidak bagus. Sebaliknya, ada anggapan bahwa videografer profesional pasti bisa menghasilkan gambar-gambar yang bagus. Belum tentu seperti itu.

Dalam dunia videografi – sebagaimana berlaku juga dalam bidang lain – profesionalisme sebetulnya lebih merupakan prinsip dan itikad bagaimana kita bekerja dan berkarya secara sempurna dengan kaidah, mekanisme dan standar kualifikasi tertentu. Click here to read more »

Merekam Video Dengan Sempurna dan Layak Ditonton

OK, Rolling!Apa yang bisa kita lakukan dengan sebuah kamera video dalam genggaman ? Umumnya, hanya ada 2 hal mengapa kita membutuhkan dan menggunakan kamera video. Pertama, mengabadikan sesuatu. Dan yang kedua, menciptakan sesuatu. Lalu, apa yang bisa diabadikan dan apa yang bisa diciptakan ? Peluang dan kesempatan untuk ini hampir-hampir tanpa batas. Yang membatasi hanyalah kebutuhan, kreatifitas dan kesenggangan.

Click here to read more »

Kesalahan Umum Videografer Pemula ( Bukan Videografer Amatir )

Hampir setiap orang terbiasa menyaksikan rekaman video dan tayangan televisi dengan penyajian gambar yang baku dan sempurna. Mereka bisa menilai bagus atau tidaknya, serta enak atau tidaknya sebuah tampilan gambar di layar televisi. Namun pada saat memegang kamera dan merekam video, tidak setiap orang mampu menciptakan gambar yang bagus dan enak ditonton. Bahkan mungkin tidak pernah menyadari bahwa rekaman video yang dihasilkannya tidak bagus dan tidak enak ditonton. Berikut adalah beberapa contoh kesalahan umum para videografer pemula. Ya, videografer pemula, bukan videografer amatir. Karena yang amatir – Anda mungkin ada diantaranya – belum tentu tidak bisa menghasilkan gambar-gambar profesional.

Merekam Gempa Bumi dan Pentas Dangdut

Gempa bumi tidak setiap saat terjadi. Namun, setiap peristiwa atau adegan yang direkam seolah-olah selalu berlangsung pada saat terjadi gempa bumi. Atau seolah terjadi di seputar pentas dangdut. Semua serba goyang, termasuk videografernya. Gambar-gambar yang selalu bergoyang, tidak stabil, terkadang tidak fokus dan cenderung acak-acakan. Ini adalah bentuk kesalahan mendasar dan kebiasaan merekam tanpa rencana, sehingga merekam apa saja yang ada di depan kamera, namun tidak jelas apa yang menjadi subyeknya. Bahkan mungkin si videografer sendiri tidak tahu apa yang direkamnya.

Merekam Sambil Jogging

Kebiasaan merekam video sambil berjalan, jika tidak dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai dengan kebutuhan, umumnya akan menghasilkan rekaman video yang tidak nyaman untuk dinikmati. Subyek seolah memantul naik turun, disertai goyangan tak beraturan. Merekam gambar dengan pergerakan seperti ini sebetulnya sangat menarik dan memberikan efek dramatis. Syaratnya, stabilitas pergerakan horizontal harus lebih diutamakan sambil sebisa mungkin meminimalisir pergerakan vertikal.

Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dan Menembak

Meski sama-sama dilakukan dengan cara membidik, merekam video berbeda dengan menembak. Menempatkan subyek tepat di tengah-tengah bingkai gambar (frame) akan sangat bagus dan tepat sasaran pada saat Anda menembak dengan senapan. Tetapi dalam hal videografi, ini adalah cara pengambilan gambar yang tidak diajurkan, karena hasilnya akan cenderung membosankan. Ini adalah salah satu kesalahan mendasar dalam hal pembingkaian (framing) dan komposisi.

Mengikat Diri di Tiang Bendera

Kebiasaan merekam video dengan berdiri terpaku di satu titik, tanpa berpindah posisi, seolah merekam di tengah upacara, dalam kondisi terikat di tiang bendera. Ini akan menciptakan gambar-gambar yang statis dan monoton, karena tidak menawarkan variasi sudut pandang atau komposisi lain yang mungkin jauh lebih menarik. Juga kebiasaan hanya merekam sebatas level pandangan mata (standing eye level), meski sebetulnya akan lebih menarik jika suatu subyek diambil dari sudut alternatif (high angle atau low angle). Bukan sebuah kesalahan fatal, namun sekali lagi cenderung membosankan. Ini adalah contoh kebiasaan salah yang berkaitan dengan sudut pengambilan gambar (angle).

Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dan Menyetrika

Zoom adalah fasilitas dasar yang sangat membantu dan memudahkan dalam pengoperasian kamera video. Dengan zooming, kita bisa mendekati subyek (tele) atau menjauhi obyek (wide) tanpa harus berpindah tempat. Namun penggunaan fungsi zoom yang berlebihan dan dengan cara yang tidak semestinya, akan menghasilkan rekaman video yang tidak nyaman ditonton. Subyek tiba-tiba mendekat, lalu menjauh, lalu mendekat lagi. Maju, mundur, maju lagi, mundur lagi, persis seperti setrika. Ini adalah contoh kesalahan penggunaan fasilitas kamera.

Merekam Video di Zebra Cross

Bayangkan seseorang yang akan menyeberang jalan di zebra cross. Tengok kanan, tengok kiri. Merasa belum yakin, tengok kanan lagi, tengok kiri lagi. Bahkan setelah berjalan di zebra cross pun orang masih melakukannya untuk memastikan apakah jalan benar-benar aman. Tengok kanan kiri adalah kebiasaan bagus jika seseorang akan menyeberang jalan raya. Tapi merekam video dengan cara serupa, tidak akan menghasilkan rekaman yang menarik untuk ditonton. Terlalu banyak panning dalam satu shot ( satu ambilan gambar dalam satu rekaman), baik ke kiri ke kanan atau ke atas ke bawah (tilt) adalah contoh kebiasaan buruk dalam merekam gambar. Terlebih jika digabungkan dengan zoom in dan / atau zoom out. Sebuah contoh kesalahan dalam pergerakan kamera (camera movement).

Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dengan Memotret

Berbeda dengan kamera foto yang merekam sebuah momen, kamera video merekam sebuah proses dinamis atau aksi (action), sehingga menghasilkan gambar bergerak (dan bersuara). Kebiasaan mengabadikan sebuah momen pada saat memotret, acapkali terbawa pada saat mempergunakan kamera video. Hasilnya adalah hasil rekaman video dengan durasi yang terlalu pendek dalam setiap shot (satu ambilan gambar dalam satu rekaman). Shot yang terlalu pendek tidak nyaman untuk dinikmati, karena tidak memberikan waktu yang cukup bagi penonton untuk memahami detil subyek yang ditampilkan. Shot yang terlalu pendek juga akan menimbulkan kesulitan dalam proses pasca produksi (editing).

Merekam Tokoh Misterius

Menempatkan subyek penting (umumnya manusia) pada bagian depan dengan latar belakang yang lebih kuat pencahayaannya. Kebiasaan atau ketidaksadaran dengan situasi backlight seperti ini (dan tidak segera melakukan antisipasi), akan menciptakan siluet dan sosok-sosok misterius. Rekaman video yang terlalu sering atau terlalu lama dalam kondisi backlight, sudah pasti tidak akan nyaman ditonton dan kehilangan kesan profesional. Sebuah contoh kesalahan umum dalam hal pencahayaan (lighting).

Apakah Anda pernah atau masih mengalami salah satu diantaranya ?

Tips Merekam Video Dengan Sempurna

  1. Jika memungkinkan, selalu pergunakanlah manual focus.
  2. Atur white balance pada setiap perpindahan lokasi atau pergantian sumber pencahayaan.
  3. Jika melakukan pengambilan gambar di luar ruangan (outdoor shooting), posisikan matahari di belakang anda. Begitu juga sumber pencahayaan lainnya.
  4. Rencanakan ambilan gambar (shot) Anda. Sebaiknya, jangan mulai merekam gambar sebelum Anda siap merekam gambar dengan sempurna. Dan yang lebih penting subyek rekaman Anda siap untuk direkam (komposisi, focus, pecahayaan, dsb. ).
  5. Gunakan tripod atau alat bantu lainnya.
  6. Dalam kondisi rekaman tanpa alat bantu (handhelds), pegang dan kendalikan kamera video Anda sedemikian rupa agar hasil rekaman tetap stabil (andaikan sebagai secangkir kopi panas).
  7. Gunakan zooming hanya untuk menata komposisi ambilan gambar. Hindari penggunaannya pada saat merekam (rolling), kecuali jika ada maksud untuk tujuan tertentu atau memang disengaja karena hasil rekaman akan diproses lebih lanjut (editing).
  8. Shoot to edit. Pastikan untuk memproses lebih lanjut setiap hasil rekaman Anda (editing). Untuk itu, rekaman video harus diciptakan dan dipersiapkan sedemikian rupa agar siap untuk diproses lebih lanjut (variasi dan kelengkapan gambar, durasi setiap shot, menghindari fasilitas kamera yang tidak diperlukan, dsb.)Jaga durasi setiap shot. Jangan terlalu panjang dan monoton (tanpa variasi), namun juga jangan terlalu pendek. Minimal antara 8 hingga 10 detik. Tidak ada batas maksimal karena tergantung action yang direkam. Namun sebaik sudah mulai merekam 3 hingga 5 detik sebelum action berlangsung. Berikan durasi yang sama setelah action berlangsung.
  9. Jaga setiap shot dalam kondisi steady tanpa pergerakan kamera, setidaknya selama 10 detik. Jika suatu shot akan berisi pergerakan kamera, berikan awalan dan akhiran dalam kondisi steady dengan durasi setidaknya 3 hingga 5 detik.
  10. Pada saat merekam, selalu antisipasi pergerakan subyek atau apa yang akan dilakukannya.

Titik Nol Kilometer Kota Jogja

Catatan:
Artikel ini merupakan transkrip sebagian naskah video dokumenter berjudul “ Beginner’s Guide to Jogja “ (Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; total durasi: 26 menit)

Anda dapat memperoleh video dokumenternya [ disini ]

Di mana lokasi titik nol kilometer Kota Jogja ? Sebagian orang akan langsung menjawab Tugu Pal Putih, yang menjadi simbol Kota Yogyakarta. Sebagian yang lain akan menjawab Keraton, karena inilah cikal bakal keberadaan Kota Jogja. Ada pula yang menyebut Alun-alun Utara, di antara 2 Pohon Beringin di tengahnya. Ada banyak kemungkinan jawaban. Lalu, di mana kira-kira tepatnya ? Secara keseluruhan, bisa dianggap posisi titik ini berada di lintasan dari Alun-alun Utara hingga Ngejaman di ujung selatan Malioboro. Tapi se-buah titik nol kilometer tidak mungkin berada pada kemungkinan yang terlalu lebar.
Sebuah papan peringatan resmi yang terpampang di depan bekas bangunan Senisono, ternyata bisa menjadi petunjuk dimana tepatnya titik nol kilometer itu berada. Titik paling sentral itu tentu berada di sekitar perempatan jalan di depannya, bukan pada tempat dimana papan peringatan itu berdiri. Sekitar tahun 70 hingga awal 80-an, di tengah perempatan ini masih terdapat sebuah air mancur kota. Dari sinilah kemungkinan nol kilometer berada dan menjadi titik pangkal yang dipakai untuk menarik garis jarak antara Kota Yogyakarta dengan kota atau wilayah lain.
Terlepas dari dimana tepatnya titik nol berada, kawasan antara Alun-alun Utara hingga Ngejaman yang berada di ujung selatan Malioboro merupakan kawasan khas yang menjadi pusaka budaya utama Kota Jogja. Meski keramaian kota telah melebar ke segala arah, kawasan ini tetap eksis dengan romantisme kultural-historis yang begitu khas. Struktur tata bangunan utama serta suasana keramaiannya tidak banyak berubah, setidaknya sejak jaman kolonial satu hingga dua abad yang lampau.
Di Kawasan Titik Nol Kilometer ini berdiri sejumlah bangunan tua bersejarah yang bukan hanya menjadi saksi perjalanan sejarah kota Jogja, namun juga menjadi bagian penting dari sejarah Republik Indonesia.
Kita mulai penjelajahan dari sisi paling utara. Di depan Gereja Protestan di sebelah utara Gedung Agung, berdiri sebuah jam kota atau stadsklok. Area di seputarnya yang dahulu bernama Jalan Margomulyo ini lazim disebut Nge-jaman. Jam ini didirikan tahun 1916, sebagai persembahan masyarakat Belan-da kepada pemerintahnya untuk memperingati satu abad kembalinya Peme-rintahan Kolonial Belanda dari Pemerintahan Inggris yang sempat berkuasa di Jawa pada awal abad ke-19. Namun prasasti kecil yang menunjukkan tulisan itu kini telah dihilangkan.
Bangunan yang mempunyai halaman paling luas di sepanjang ruas dari Kera-ton hingga Tugu kota Jogja adalah Istana Kepresidenan Gedung Agung. Ge-dung yang selesai dibangun pada tahun 1832 ini, dipakai sebagai tempat ting-gal para Residen dan Gubernur Belanda di Yogyakarta. Bangunan ini sempat rusak berat pada saat terjadinya gempa bumi besar pada tahun 1867. Pada jaman penjajahan Jepang menjadi kediaman resmi Koochi Zimmukyoku Tyookan, penguasa Jepang di Kota Jogja. Dari tahun 1946 hingga 1949, gedung ini menjadi tempat kediaman resmi Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama, pada saat Kota Jogja menjadi ibukota Republik Indonesia. Kini, Gedung Agung adalah salah satu Istana Presiden Republik Indonesia yang berada di luar kota Jakarta. Gedung Agung adalah bangunan yang sarat nilai sejarah, karena menjadi saksi berbagai peristiwa penting di Kota Jogja.
Benteng Vredeburg berada tepat di depan Gedung Agung. Bangunan yang menjadi markas tentara pada jaman kolonial Belanda ini, sekarang berfungsi sebagai museum dengan nama Museum Benteng Vredeburg. Benteng ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1760 atas permintaan orang-orang Belanda. Bangunannya yang sederhana kemudian disem-purnakan pada tahun 1787 dan kemudian diberi nama Benteng Rustenburg yang artinya benteng peristirahatan. Bangunan ini juga sempat rusak berat pada saat terjadinya gempa bumi besar pada tahun 1867. Setelah dilakukan pembenahan, namanya kemudian diganti menjadi Benteng Vredeburg, yang berarti benteng perdamaian. Masyarakat Jogja tempo dulu menyebut benteng ini dengan nama Loji Gedhe, sementara barak-barak tentara di belakangnya disebut Loji Cilik. Gedung Agung yang berada tepat didepannya, karena memiliki taman yang luas, disebut sebagai Loji Kebon.
Di sisi timur Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan, dahulu berdiri sebuah toko bernama NV Toko Europe, yang menyediakan barang-barang impor untuk keperluan orang-orang Belanda. Setelah masa kemerdekaan, bekas bangunan toko ini dipergunakan oleh sejumlah kantor, diantaranya sebagai Kantor kementrian Penerangan, Kantor Persatuan Wartawan Indonesia, serta per-wakilan Kantor Berita Antara.
Di sebelah timurnya, dahulu berdiri Gedung Societet de Vereeniging atau Balai pertemuan yang dikenal masyarakat Jogja dengan nama Balai Mataram. Tempat ini merupakan tempat rekreasi orang-orang Belanda.Billyard adalah salah satu permainannya, sehingga gedung ini juga disebut Kamar Bola. Pada tahun 50-an, gedung ini digunakan sebagai bioskop rakyat dengan nama Senisono. Bioskop ini kemudian pindah ke salah satu sudut Alun-alun Utara dan berganti nama menjadi Soboharsono, yang saat ini telah berubah fungsi menjadi galeri seni. Hingga akhir tahun 80-an, Senisono menjadi pusat kegiat-an seni budaya di Kota Jogja. Bekas NV Toko Europe dan Gedung Senisono telah diputar dan saat ini menjadi bagian dari Istana Kepresidenan Gedung Agung.
Di sudut barat daya Benteng Vredeburg, berdiri sebuah monumen yang didi-rikan untuk mengenang peristiwa Serangan Umum yang dilancarkan para pejuang Republik Indonesia terhadap pendudukan Belanda pada pada tanggal 1 Maret 1949.
Bangunan bertingkat yang masih berdiri kokoh di sisi selatan jalan ini seka-rang dipergunakan sebagai Kantor Bank BNI. Pada jaman kolonial, gedung ini dipergunakan sebagai Kantor Asuransi Nill Maattschappij dan Kantor de Javasche Bank. Lantai bawah gedung ini, pada Jaman Jepang dipergunakan sebagai Kantor Radio Hoso Kyoku, Pada awal kemerdekaan studiodigunakan sebagai Studio Siaran radio Mataram yang dikenal dengan nama MAVRO.
Di sebelang timur Gedung Bank BNI, saat ini berdiri Kantor Pos Besar Yog-yakarta. Pada jaman Kolonial Belanda, fungsinya tidak jauh berbeda, yaitu sebagai kantor pos, telegraf dan telepon. Disebelah timur gedung ini berdiri Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Dahulu dipergunakan sebagai kantor de Indische Bank.
Di depan bekas Gedung Senisono, saat ini terdapat sebuah monumen yang mengabadikan telapak tangan sejumlah tokoh Kota Jogja. Monumen yang diresmikan pada tahun 2003 ini dinamakan Monumen Tapak Prestasi Kota Yogyakarta.

Kawasan Jeron Benteng

Catatan:
Artikel ini merupakan transkrip sebagian naskah video dokumenter berjudul “ Beginner’s Guide to Jogja “
(Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; total durasi: 26 menit)

Anda dapat memperoleh video dokumenternya [ disini ]

Istilah Jeron Benteng biasa dipakai untuk menyebut kawasan di bagian dalam benteng yang mengelilingi Keraton Kasultanan Yogyakarta, yang menjadi situs pusaka budaya utama di Kota Jogja. Kawasan ini memiliki pola tata ruang yang khas, bangunan-bangunan bersejarah, serta pola tata nama yang masih lestari sejak pertama kali adanya sejak satu dua abad yang lampau.
Selain Keraton Kasultanan Yogyakarta yang sudah sangat termashur, apa yang menarik di kawasan Jeron Benteng ? Berbagai situs pusaka budaya dengan suasana menariknya dapat kita jumpai di kawasan Jeron Benteng. Yang paling menarik dan pantas dikunjungi pertama kali, sudah tentu adalah Pesanggrahan Tamansari.
Pesanggrahan Tamansari yang juga disebut watercastle adalah sebuah istana di atas air yang mulai dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758. Pada masa jayanya, Tamansari memiliki sekitar 57 bangunan, terdiri dari danau buatan, gedung, gapura, masjid, kolam, lorong, serta kebun-kebun yang ditanami bebuahan, bunga-bunga serta rempah-rempah. Meski sebagian besar bangunan sudah kehilangan wujudnya, namun sisa-sisa keindahan Tamansari masih bisa kita saksikan hingga hari ini.
Pasar Ngasem dapat kita jumpai hanya beberapa langkah dari Tamansari. Meski lebih dikenal sebagai pasar burung, Pasar Ngasem sebetulnya juga sebuah pasar yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari sebagaimana pasar tradisional pada umumnya. Para pedagang pasar tradisional yang berdampingan langsung dengan para penjual burung, ikan hias dan berbagai binatang peliharaan, menciptakan keramaian khas yang hanya ada di Pasar Ngasem. Karena itulah pasar ini tidak pernah sepi dari pengunjung, sedari pagi hingga sore hari.
Alun-alun yang berada di sebelah selatan atau belakang Keraton ini, lazim disebut Alun-alun Kidul. Dahulu juga disebut dengan nama Alun-alun Pengkeran, yang artinya Alun-alun sebelah belakang. Pada jamannya, tempat ini menjadi ajang dimana para prajurit berlatih ketangkasan, ilmu beladiri atau menunggang kuda. Ada sebuah kepercayaan, jika seseorang berhasil berjalan melintasi ruang diantara 2 Pohon Beringin dengan mata tertutup, maka keinginannya akan terkabulkan. Ini membuahkan atraksi khas di Alun-alun Kidul, yang dikenal dengan istilah Masangin.
Alun-alun Kidul tidak pernah sepi. Pada siang hari, sejumlah pedagang barang bekas atau klithikan berjajar menjajakan dagangannya. Setelah sore hari, alun-alun ini berubah menjadi arena olah raga. Pada saat yang sama, kebe-radaan kandhang gajah yang ada di sisi barat menjadi magnet bagi warga kota untuk menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, dan menyulap tempat ini menjadi arena bermain bagi anak-anak. Malam hari pun suasana di Alun-alun Kidul tidak pernah sepi dengan sederetan pedagang lesehan yang menjajakan wedang ronde dan roti bakar.
Di seputar Jeron Benteng juga banyak jumpai sejumlah dalem, yaitu bangun-an yang menjadi tempat tinggal para pangeran dan kerabat utama Sultan. Dalem-dalem itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama bangsawan yang menempatinya. Salah satunya adalah Dalem Kaneman yang dibangun pada tahun 1855 pada masa pemerintahan Sultan hamengku Buwono VII. Dalem yang berada di sebelah barat Tamansari ini, saat ini ditempati oleh Gusti Kanjeng Ratu Anom Brata, putri pertama Sultan Hamengku Buwono IX. Dalem ini sering digunakan untuk kegiatan seni tari klasik yang dikelola oleh Yayasan Among Beksa.
Tak seberapa jauh dari Dalem Kaneman terdapat Dalem Mangkubumen yang dibangun pada tahun 1865 oleh Sultan Hamengku Buwono VI sebagai tempat tinggal putra mahkota atau Pangeran Adipati Anom. Dalem ini sekarang dipergunakan sebagai kampus Universitas Widya Mataram. Sementara Dalem Pakuningratan yang berada di sebelah timurnya, dibangun secara bertahap antara tahun1877 hingga 1921 pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII. Dalem ini juga mencatat sejarah sebagai tempat kelahiran Gusti Raden Mas Daradjatoen, yang kemudian bertahta sebagai Sultan Hamengku Buwono IX. Tempat ini juga pernah dipergunakan sebagai Kampus Akademi Seni Drama dan Film atau ASDRAFI yang legendaris itu.
Sejumlah dalem lainnya tersebar di sejumlah tempat di Kawasan Jeron Benteng. Sebagian masih berfungsi sebagai tempat tinggal para bangsawan Keraton. Sementara sebagian yang lainnya telah berpindah tangan dan berganti fungsi. Suasana dan keberadaan perkampungan di Kawasan Jeron Benteng, juga menjadi salah satu wujud pusaka budaya Kota Jogja. Nama-nama kam-pung itu biasanya diambil dari nama dan tugas para abdi dalem Keraton. Abdi dalem yang menjalankan tugas sehari-hari di lingkungan Keraton, umumnya memang tinggal di dalam lingkungan benteng, agar mereka dapat segera hadir pada saat tenaganya dibutuhkan.
Abdi dalem yang bertugas untuk mempersiapkan teh atau minuman misalnya, tinggal di sebelah selatan Tamansari yang dikenal sebagai Kampung Patehan. Sementara abdi dalem silir yang bertugas merawat dan membersihkan perabotan rumah tangga seperti mebel dan lampu-lampu Keraton ditempatkan di sebelah timur Alun-alun Kidul yang dikenal sebagai Kampung Siliran. Begitu pun para pemelihara kuda atau gamel serta para penabuh tambur, yang tinggal di Kampung Gamelan dan Kampung Namburan. Disini juga terdapat kampung yang dahulu diperuntukkan bagi tempat tinggal sebagian prajurit Keraton, yaitu Kampung Langenastran dan Kampung Langenarjan.