468x60bannerad

Selasa, 01 Januari 2019

Zuikerfabriek: Mengenang Zaman Keemasan Industri Gula di Indonesia

Industri gula pernah mencapai kejayaannya di negeri ini. Menjelang dekade 1930-an, Hindia Belanda telah menjadi pengekspor gula terbesar di dunia setelah Kuba, dengan produksi mencapai 3 juta ton per tahun.

Saat itu ada sebanyak 179 pabrik gula yang rata-rata mampu memproduksi 14,8 ton gula pasir per hektar, dengan total areal lahan tebu seluas 200.000 hektar. Areal itu sebagian besar terkonsentrasi di Jawa, sekaligus menjadikan pulau ini sebagai salah satu produsen gula terkemuka di dunia.

Tak hanya di sisi jumlah produksi. Di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, industri gula di Pulau Jawa menjadi bisnis unggulan yang terkenal dengan kecanggihan pengelolaannya, mulai dari teknik budidaya tanaman tebu hingga proses produksi dan pemasarannya sebagai komoditas yang sebagian besar ditujukan bagi pasar dunia.

Keseriusan Pemerintah Hindia Belanda dalam menangani industri ini juga ditunjukkan dengan dibangunnya sarana dan prasarana penunjang yang menghubungkan lahan pertanian dan pabrik pengolahannya dengan jalur distribusinya menuju pasar dunia. Mereka membangun jaringan jalan raya, jalur kereta api, jembatan dan pelabuhan. Mereka juga membangun kawasan industri yang terintegrasi dengan bangunan perkantoran serta perumahan yang menjadi tempat tinggal para karyawannya.

Sebagian dari infrastruktur peninggalan zaman keemasan itu masih bisa disaksikan hingga hari ini. Sebagian yang lain bahkan tetap berfungsi sebagai sarana vital pendukung kehidupan sosial ekonomi di masa kini, khususnya jaringan transportasi yang dibangun pada masa itu.

Konon, meski tanaman tebu telah ditemukan tumbuh di wilayah Nusantara sejak abad ke-4, baru 11 abad kemudian bumi ini mulai dimanfaatkan sebagai bakan baku gula. Sejak kedatangan pedagang Belanda pada tahun 1596 yang diikuti dengan terbentuknya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada tahun 1602, industri gula mulai berkembang yang dipicu oleh meningkatnya permintaan gula dari Eropa.

Pada pertengahan abad ke-17, penggilingan tebu dalam skala besar pun mulai dilakukan oleh sebagian imigran Cina yang bermukim di Batavia. Tercatat, ekspor perdana gula dari Batavia menuju Eropa telah dilakukan pada tahun 1673.

Awalnya, teknologi yang dipergunakan masih teramat sederhana. Alat pengepresan tebu hanya terdiri dari dua buah silinder batu atau kayu yang saling berhimpitan. Pada salah satu silinder dipasang tonggak pemutar yang pada ujungnya digerakkan secara manual dengan tenaga manusia atau hewan. Batang-batang tebu dimasukkan diantara himpitan silinder dan hasilnya dialirkan ke dalam kuali besar di bawah kedua silinder. Alat giling sederhana ini dapat dipindah-pindahkan sesuai kebutuhan dan dibawa berkeliling lahan tanam di masa panen tebu.

Menjelang penghujung abad ke-18, penggilingan gula tradisional ini masih terus bertahan, meski jumlahnya semakin menurun. Dari sebanyak 80 penggilingan gula yang diketahui pada tahun 1750, menjadi hanya 55 penggilingan saja di tahun 1776.

Industri gula yang lebih modern sempat berdiri di awal abad ke-19 di Pamanukan, Ciasem, Jawa Barat yang dikelola oleh para pedagang besar asal Inggris. Sayang, karena kesalahan lokasi dan kekurangan tenaga kerja, pabrik ini hanya mampu bertahan selama satu dasawarsa.

Mekanisasi industri gula baru diperkenalkan pada tahun 1826 oleh para pengusaha bermodal besar dengan mendatangkan mesin-mesin impor yang untuk pertama kalinya mulai dipergunakan di Jawa. Industri ini pun semakin berkembang sejak Johannes van den Bosch, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, mulai menerapkan Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel di tahun 1830. Dalam sistem ini, setiap desa diwajibkan menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu dan nila.

Kebijakan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch ini semakin memacu pertumbuhan industri gula, selain berkat mulai dipergunakannya teknologi produksi yang semakin modern, juga karena ketersediaan bahan baku yang semakin melimpah. Bekerjasama dengan pengusaha-pengusaha non pribumi, lahan-lahan dibawah penguasaan Gubernemen juga didayagunakan sedemikian rupa menjadi perkebunan tebu yang menjadi bahan baku industri gula.

Di Pekalongan misalnya, pada tahun 1830 berdiri dua pabrik gula yang dikelola oleh orang Tionghoa, yaitu Gou Kan Tjou di Desa Wonopringo dan Tan Hong Jan di Desa Klidang. Sementara di Karanganjar, Pemalang, berdiri pabrik lainnya dikelola oleh Alexander Loudon, pedagang besar asal Inggris yang terlibat dalam kerja administratif di Hindia Belanda pasca Pemerintahan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles.

Pada tahun 1835-1836, bersama de Sturler dan Verbeek, Loudon juga membangun pabrik gula Poegoe dan Gemoe di wilayah Kendal. Sekitar tahun 1837-1838, di Pekalongan tercatat pernah beroperasi tiga pabrik gula modern, yaitu Wonopringo, Sragie dan Kalimatie. Ketiganya mendayagunakan tak kurang dari 1733 hektar lahan dengan tenaga kerja pribumi yang diikat kontrak secara tidak manusiawi oleh Gubernemen.

Meski belakangan terbukti memberikan sumbangan modal besar pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia Belanda (1835-1940), masa-masa pemberlakukan Sistem Tanam Paksa ini diakui menjadi era paling eksploitatif dalam praktek ekonomi di Hindia Belanda yang menyengsarakan kehidupan kaum pribumi. Protes keras muncul dari berbagai kalangan Negeri Belanda mengharuskan dihapuskannya Sistem Tanam Paksa pada tahun 1870 dan digantikan dengan Suikerwet atau Undang-undang Gula 1870 dan sistem sewa tanah yang menjadi bagian dari Undang-undang Agraria 1870.

Undang-undang Gula mengatur penghapusan kewajiban budidaya tebu bagi petani di Hindia Belanda yang dilakukan secara bertahap, hingga selesai dengan sempurna pada tahun 1891. Bersama sistem sewa tanah yang mulai diberlakukan, undang-undang ini kemudian memberi peluang kepada perusahaan-perusahaan swasta Eropa untuk mulai berinvestasi di bidang perkebunan tebu. Gula mentah yang diekstrak dari tebu oleh pabrik-pabrik di Hindia Belanda pun dikirim ke Belanda untuk dirafinasi dan dipasarkan.

Di tahun 1887, untuk menunjang optimalisasi budidaya tebu dan peningkatan industri gula, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan Het Proefstation voor de Java Suiker Industrie atau Pusat Penelitian Gula yang didirikan di Pasuruan, Jawa Timur.

Jawa Timur memang menjadi salah satu pusat konsentrasi lahan perkebunan tebu berikut pabrik-pabrik penggilingan gula yang tersebar di sejumlah kabupaten, seperti Bondowoso, Situbondo, Jombang, Jember, Mojokerto, Probolinggo, Lumajang, Madiun, Malang, Sidoarjo, Nganjuk, Tulungagung, Kediri dan Magetan.

Di Jawa Tengah, lahan tebu dan kawasan pabrik gula dapat dijumpai di seputar Klaten, Karanganyar, Sragen, Pati, Kudus, Pekalongan, Banyumas, Purwokerto, Tegal, Brebes serta di wilayah Kasultanan Yogyakarta. Di Jawa Barat bisa dijumpai di seputar Majalengka, Cirebon, Indramayu dan Subang. Industri gula juga bisa dijumpai di luar Pulau Jawa, yaitu di Sumatera Selatan, Lampung dan Sulawesi Selatan.

Pesatnya perkembangan industri gula di Hindia Belanda juga melahirkan tokoh legendaris yang dikenal sebagai “Raja Gula Asia”. Adalah Oei Tiong Ham, seorang konglomerat kelahiran Semarang yang begitu tersohor pada dekade-dekade awal abad ke-20, sebagai pemilik perusahaan Oei Tiong Ham Concern dan N.V. Kian Gwam. Kedua perusahaan yang berpusat di Semarang ini memiliki sejumlah anak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan tebu , pabrik gula, perbankan dan asuransi, selain di bidang import bahan-bahan pokok.

Bidang bisnis utama dan terpenting dari Oei Tiong Ham Concern adalah ekspor gula pasir. Untuk menunjang bisnis ini, Sang Konglomerat telah membangun 5 buah pabrik gula, yang semuanya berada di pulau Jawa.

Pada puncak kejayaan bisnisnya di dekade 1920-an, total kekayaannya ditaksir mencapai 200 juta Gulden. Namun justru pada periode tersebut, Oei Tiong Ham sudah tidak berada di Indonesia (Hindia Belanda) lagi. Ia meninggalkan Semarang menuju ke Singapura pada tahun 1921, karena perselisihan dengan pemerintah Hindia Belanda mengenai aturan pajak ganda serta masalah hukum waris.

Industri gula juga berkembang pesat di wilayah “Kepangeranan” di Surakarta dan Yogyakarta. Di wilayah Surakarta, keberadaan pabrik gula di Colomadu dan Tasikmadu tak lepas dari kepemilikan dan pengelolaan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV yang bertahta antara tahun 1853 hingga 1881 dan dikenal dengan jiwa wirausahanya yang tinggi. Modal yang dimilikinya ditanamkan ke berbagai sektor usaha, termasuk industri gula.

Pabrik di Colomadu yang sudah didirikan pada tahun 1816 serta pabrik di Tasikmadu yang berdiri 10 tahun kemudian, menjadi pertanda sukses bisnis gula yang dikelola oleh keluarga Mangkunegaran. Kepemilikan kedua pabrik gula itu bahkan tak pernah tersentuh oleh pihak asing dan hampir selalu dikelola oleh pribumi.

Hingar bingar industri gula juga melanda wilayah Kasultanan Yogyakarta, yang mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang bertahta antara tahun 1877 hingga 1921. Tercatat, ada 17 pabrik gula yang beroperasi di Yogyakarta dan sekitarnya, yaitu: Randugunting, Tanjungtirto, Kedaton Pleret, Wonocatur, Padokan, Bantul, Barongan, Sewu Galur, Gondanglipuro, Pundong, Gesikan, Rewulu, Demakijo, Cebongan, Beran, Medari, dan Sendangpitu.

Konon, dari setiap pendirian pabrik itu, Keraton Kasultanan Yogyakarta menerima pemasukan dana tak kurang dari Rp 200.000,00, sehingga Sultan Hamengku Buwono VII kemudian juga mendapat sebutan sebagai “Sultan Sugih”.

Sebagaimana tersebut dalam catatan Proefstation Voor Java Suikerindustrie (sekarang Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia atau P3GI), jumlah ini terbilang banyak, mengingat wilayah Yogyakarta yang tak terlalu luas, sehingga pabrik-pabrik itu berada pada lokasi yang relatif saling berdekatan.

Untuk mendukung pesatnya pertumbuhan industri gula di wilayah Kasultanan Yogyakarta ini, Pemerintah Hindia Belanda sempat berencana untuk membangun sebuah pelabuhan besar di Pantai Parangtritis. Sayang, belum sampai rencana ini terwujud, situasi krisis datang melanda di awal dekade 1930-an.

Di saat Hindia Belanda berada pada puncak kejayaan industri gula menjelang tahun 1930-an, krisis dahsyat disertai penurunan tingkat ekonomi secara dramatis melanda dunia. Rangkaian peristiwa yang dikenal sebagai Depresi Besar atau Zaman Malaise ini, bermula dari jatuhnya bursa saham New York pada bulan Oktober 1929 yang mengakibatkan berbagai kegiatan ekonomi, baik di negara industri maju maupun negara berkembang, hancur berantakan. Dampak berantai pun merambah berbagai sektor, seperti pertanian, pertambangan dan kehutanan.

Imbas peristiwa ini juga melanda Negeri Belanda berikut Hindia Belanda sebagai wilayah kolonialnya. Di bidang industri gula, kekacauan ekonomi menjadi sebab menumpuknya persediaan gula di tingkat dunia. Sebagai jalan keluar, disusunlah kesepakatan perdagangan internasional pertama yang mengatur produksi gula yang dikenal sebagai Charbourne Agreement yang ditandatangani pada tahun 1931.

Produksi gula di Hindia Belanda pun kemudian dibatasi, dari sekitar 3 juta ton menjadi hanya 1,4 juta ton per tahun. Akibatnya, banyak pabrik gula terpaksa ditutup dan menggulung tikar. Di Yogyakarta, dari semula 17 pabrik gula yang berdiri, hanya hanya tersisa 8 pabrik saja, yaitu: Tanjungtirto, Kedaton Pleret, Padokan, Gondanglipuro, Gesikan, Cebongan, Beran, dan Medari.

Secara umum, rentetan peristiwa pasca Malaise kemudian memudarkan era keemasan industri gula ini. Mulai dari krisis Perang Dunia II yang ditandai dengan penguasan bala tentara Jepang atas kepulauan Nusantara, era transisi di masa-masa awal era kemerdekaan di paruh kedua dekade 1940-an, hingga proses nasionalisasi yang menimpa nasib pabrik gula warisan zaman kolonial pada dekade 1950-an.

8 pabrik gula di Yogyakarta yang masih berdiri pasca Malaise hanya mampu bertahan hingga tahun 1948, saat Belanda melancarkan Agresi Militer II dan menjadi sasaran pembumihangusan hingga nyaris tak menyisakan bekasnya.

Baru di tahun 1955, sebuah pabrik gula baru didirikan di bekas lokasi pabrik gula Padokan. Pembangunan ini diprakarsai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX dan diresmikan oleh Presiden RI Ir. Soekarno pada tanggal 29 Mei 1958. Ini menjadi satu-satunya pabrik gula yang masih berdiri di Yogyakarta hingga hari ini dan dikenal dengan nama pabrik gula Madukismo.

Jumlah penduduk yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat sejak tahun 1970-an telah menyebabkan semakin tingginya kebutuhan gula di Indonesia. Ketika industri nasional tak lagi sehebaat di zaman keemasannya, negeri ini pun kemudian berubah menjadi pengimpor gula.

Sejumlah pabrik gula warisan zaman kolonial yang tersisa masih tetap bertahan, namun dengan tingkat produksi yang sangat rendah. Sebagian besar diantaranya bahkan masih menggunakan mesin-mesin yang telah berusia lebih dari satu abad. Kualitas dan kuantitas gula yang dihasilkannya tentu tak akan mampu bersaing dengan gula impor yang tak hanya diuntungkan dari sisi teknologi produksi, namun juga di sisi tata niaganya.

Akhirnya, pasar gula Indonesia pun terbatasi bagi pemenuhan kebutuhan rumah tangga dalam skala lokal ataupun regional di sekitar lokasi pabrik-pabriknya.

Kamis, 18 Oktober 2018

Art Deco, Langgam Indah Sepanjang Masa

Indonesia tak hanya kaya akan ragam hias dan desain bercorak tradisional. Sebagai bangsa yang pernah merasakan penjajahan bangsa asing dalam waktu yang begitu panjang, mudah dimaklumi jika berbagai unsur budaya asing turut mewarnai beragam bentuk warisan budayanya, termasuk dalam bidang seni dekoratif dan desain terapan.

Minggu, 09 September 2018

Kirab Prajurit Nyutra Budaya (Gelar Gebyar Budaya 2018)


Gelar Gebyar Budaya 2018 diselenggarakan oleh Paguyuban Nyutra Budaya, Minggu, 9 September 2018. Rangkaian kegiatan dipusatkan di Gang Warsokusumo, RW 17 Kampung Nyutran, Kel. Wirogunan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta.Kirab Prajurit Nyutra Budaya menjadi pembuka rangkaian kegiatan ini. Video: Agus Yuniarso.

Selasa, 27 Februari 2018

Potehi Klasik Tersisa di Tanah Jawa (2)

Kota Batavia diyakini menjadi gerbang masuknya Wayang Potehi ke Pulau Jawa, sebelum akhirnya merambah komunitas Tionghoa di kota-kota lain, Edmund Scoot, pemimpin loji Inggris di Banten (1603-1604) sempat mencatat sering dipertunjukkannya boneka sarung tangan ini di lingkungan kelenteng dalam suatu ritual keagamaan. Sementara dalam naskah Riwajat Semarang Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan, Liem Thian Joe mengisahkan pertama kalinya wayang potehi dimainkan di Semarang sekitar tahun 1772. Kala itu, serombongan wayang potehi sengaja diundang dari Batavia untuk memeriahkan selesainya pembangunan Kelenteng Tay Kak Sie di gang Lombok. Pertunjukan hampir selama dua bulan itu mendapatkan sambutan yang meriah dari khalayak ramai.

Wayang potehi pun terus berkembang dan semakin mengakar dari waktu ke waktu, terutama di kelenteng-kelenteng sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, dari Banten hingga Surabaya. Tak hanya diwariskan secara turun-temurun, panggung teater boneka ini juga makin diramaikan dengan hadirnya para perantau baru, termasuk diantaranya sejumlah sehu profesional yang datang langsung dari Negeri Tiongkok. Acapkali, mereka datang bersama dengan para pemain musik atau pembuat bonekanya. Kotak-kotak boneka, properti serta panggung pun dibawa langsung dari negeri asalnya untuk menemaninya menetap di Jawa, sembari merinitis kehidupan baru.

Wayang potehi yang berkembang di Jawa belakangan justru lebih terjaga orisinalitasnya, baik dari sisi bentuk maupun tradisi yang menyertainya. “Di negeri leluhurnya, kesenian ini justru menyurut drastis tergerus perubahan jaman akibat revolusi kebudayaan yang terjadi, dan belakangan berubah ke pendekatan modern yang lebih fokus pada sisi akrobatik dengan kisah-kisah baru.” ungkap Ardian Purwoseputro, seorang pemerhati budaya Nusantara yang belakangan aktif memasyarakatkan kembali eksotisme wayang potehi.

Bicara tentang kebangkitan kembali wayang potehi, tak bisa lepas dari keberadaan kelenteng Hong San Kiong di Gudo, Kabupaten Jombang. Tak sebatas di Jawa Timur, kelenteng ini yang menjadi markas Paguyuban Wayang Potehi Fu He An ini, boleh jadi merupakan satu-satunya pusat pelestarian wayang potehi di Indonesia.

Adalah Toni Harsono, terlahir dengan nama Tok Hok Lay, ketua kelenteng Hong San Kiong sekaligus ketua Paguyuban Wayang Potehi Fu He An, tokoh pelestari dibalik geliat wayang potehi di Gudo. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya, Toni adalah generasi ketiga seniman potehi di Indonesia.

Tok Su Kwie, kakeknya, adalah seorang sehu yang datang langsung dari Negeri Tiongkok. Bersama Tan Hing Gie, salah seorang pemain musik yang setia mengiringinya, mereka mendarat di pantai utara Pulau Jawa di penghujung abad ke-19 dan menetap di Gudo hingga akhir hayatnya. Tok Hong Kie, ayah Toni Harsono, menjadi penerus jejak sehu Tok Su Kwie melestarikan tradisi potehi hingga masa-masa sulit ketika Pemerintah Orde Baru memberangus segala sesuatu yang berbau Tionghoa di paruh kedua tahun 1960-an.

Namun, meski menjadi keturunan langsung seniman-seniman potehi, Toni Harsono justru tidak melanjutkan profesi sebagai seorang sehu, mengikuti wasiat sang ayah yang tidak menghendaki keturunannya untuk melanjutkan profesi ini, mengingat pengalaman hidupnya sebagai seorang sehu yang penuh dengan keprihatinan dan keterbatasan. Karenanya, ungkapan cinta dan kepeduliannya akan wayang potehi diwujudkannya dengan perhatian dan berbagai upaya demi lestarinya wayang potehi di Indonesia, khususnya di Jombang, tempat kelahiran yang sangat dicintainya.

Peninggalan sang kakek, kini menjadi salah satu koleksinya yang paling berharga, berupa puluhan wayang potehi asli berusia tak kurang dari 150 tahun, lengkap dengan dekorasi panggungnya. Koleksi bersejarah yang telah melintasi samudera luas, dari Negeri Tiongkok ke Tanah Jawa. Meski sebagian dengan kondisi rusak, sisa-sisa keindahannya masih tampak.

Koleksi asli yang di negeri asalnya bahkan telah jarang dijumpai ini, memandunya untuk menciptakan boneka-boneka baru. Pengukir kayu handal sengaja didatangkan dari Jepara. Tak sebatas mengukir kepala boneka potehi, mereka juga membuat duplikat properti dan dekorasi panggung yang sesuai dengan aslinya. Busana mini warna-warni yang menghiasi tubuh boneka potehi diserahkan kepada tukang bordir dan penjahit khusus di di Jombang dan Tulungagung. Sementara pengecatan ekspresi wajah dan pembentukan akhir wujud boneka lebih banyak dilakukannya sendiri.

Obsesi yang ingin diraihnya, menyediakan paling setidak 10 kotak yang berisi tak kurang dari 150 boneka potehi, lengkap dengan alat musik berikut panggungnya. “Semua ini dilakukan untuk memudahkan para sehu agar bisa mementaskan wayang potehi kapan saja dan dimana saja, mengingat tak semua sehu mampu membuat boneka sendiri,” ungkap Toni Harsono di sela kesibukannya ‘merias’ wajah boneka potehi.

Memang, tak setiap sehu selalu memiliki kotak boneka sendiri dan selama ini mereka biasa menggunakan koleksi yang dimilikinya tanpa dipungut biaya sepeser pun. Posisi Toni sebagai salah satu pengusaha sukses di Jombang memungkinnya untuk mengemban posisi penting dalam pelestarian seni tradisi ini. Bukan sebagai sehu sebagaimana ayah dan kakeknya, namun menjadi seorang maecenas lokal dengan perhatian spesifik terhadap kelestarian wayang potehi. Sebuah posisi unik yang tergolong langka.

Obsesi lain yang menjadi impiannya adalah menjadikan Gudo sebagai pusat pelestarian dan sumber informasi wayang potehi di Indonesia, bahkan di tingkat dunia. Salah satunya dengan membangun sebuah museum khusus wayang potehi yang pembangunannya telah dimulai, tak jauh dari kelenteng Hong San Kiong di Jalan Raya Gudo, Kabupaten Jombang.

Agus Yuniarso untuk Kabare Magazine. Sebelumnya: Potehi Klasik Tersisa di Tanah Jawa (1).

Potehi Klasik Tersisa di Tanah Jawa (1)

Hembusan angin malam di tepi Kali Berantas, tak menyurutkan keasyikan sejumlah orang yang duduk di depan sebuah rumah panggung berwarna merah di halaman Kelenteng Tjoe Hwie Kiong. Malam itu adalah satu dari sekian malam ketika kelenteng yang berada Jl. Yos Sudarso, Kediri ini menggelar pertunjukan wayang potehi selama hampir dua bulan penuh, hingga awal Juli 2013 lalu.

Purwanto, pria asal Jombang yang berdomisili di Kediri, tampil sebagai dalang, yang dalam istilah potehi disebut sebagai sehu. Ia begitu lihai memainkan boneka sembari melantunkan suluk dalam sebuah lakon tentang Jenderal Sie Djin Kwie, satu dari sekitar 30-an lakon yang dikuasainya. Selain sang sehu, masih ada empat orang lagi yang sibuk di belakang panggung. Satu orang menjadi jiju atau asisten yang mempersiapkan dan menata boneka berikut propertinya, sementara tiga orang lainnya duduk di bagian belakang memainkan sejumlah musik tradisional Tiongkok seperti tong ko (tambur), piak ko (bilah kayu), ua lo dan sio lo (gembreng besar dan kecil), tua jwee (terompet), hian na (rebab) serta gwee khim (mandolin).

Suasana malam itu cukup memberi gambaran bagaimana lazimnya suasana pertunjukan wayang potehi yang belakangan kembali marak digelar. Pertunjukan wayang potehi biasanya digelar untuk memeriahkan peringatan ulang tahun dewa yang yang menjadi tuan rumah suatu kelenteng. Ongkos pertunjukannya ditanggung oleh para donatur dari berbagai kota yang membiayai beberapa lakon atau sejumlah hari pertunjukan tertentu.

Umumnya dalam sehari dipentaskan dua kali, sekitar pukul 15.30 dan pukul 19.00, masing-masing dengan kisaran durasi selama dua jam. Lakon yang ditampilkan pada setiap pementasan selalu berbeda, namun tetap dalam satu rangkaian cerita panjang. Tentang lakon apa yang akan dipentaskannya, sang sehu bergantung sepenuhnya pada permintaan sang pemesan. “Tidak semuanya cerita klasik, bisa juga cerita garapan yang lebih nge-pop seperti Sam Pek Eng Tay, cerita silat karya Kho Ping Hoo atau kisah Kera Sakti,” tutur Purwanto.

Sebagai salah satu ikon budaya peranakan Tionghoa di Indonesia, wayang potehi kembali muncul ke permukaan sejak tahun 2000, setelah Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina. Lebih dari tiga dasawarsa hanya terkungkung dibalik tembok kelenteng, sosok Jenderal Sie Djin Kwie kini bebas tampil dan dikisahkan dimana saja. Tak sebatas di kelenteng-kelenteng, namun juga merambah berbagai ruang publik seperti galeri seni dan pusat perbelanjaan di berbagai kota besar di Indonesia.

Tidak ada catatan pasti bagaimana asal mula berkembangnya seni pertunjukan ini di Indonesia. Bahkan di negeri leluhurnya sendiri, tidak cukup tersedia sumber referensi yang dominan, sehingga memunculkan beragam versi tentang sejarah seni teater boneka, khususnya wayang potehi.

Di negeri asalnya, teater boneka konon telah dikenal sejak masa kejayaan Dinasti Han (206-220 Masehi) dan semakin berkembang di masa Dinasti Tang (618-907 Masehi). Kaisar Minghuang yang memerintah tahun 713-756 Masehi, tercatat sebagai penggemar pertunjukan-pertunjukan boneka yang pementasannya kerapkali diadakan di dalam istananya. Kota Zhangzhou dan Quanzhou di Provinsi Fujian, sejak berabad lampau telah menjadi pusat perkembangan teater boneka, dimana para seniman mencipta dan berkarya.

Bentuk teater boneka itu sendiri bermacam-ragam, baik yang berbentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. Bentuk dua dimensi berupa pertunjukan bayang-bayang dari boneka tipis yang terbuat dari kulit (shadow puppet), serupa dengan wayang yang dikenal di Jawa. Sementara bentuk tiga dimensi berupa boneka bertangkai (rod puppet), boneka yang digerakkan dengan tali (string puppet atau marionette) serta boneka sarung tangan (glove puppet). Salah satu boneka sarung tangan ini dikenal dengan nama “pouw tee hie”, sebuah istilah dalam dialek Hokkian (Fujian) atau dalam Bahasa Mandarin dikenal dengan istilah “budaixi”. Di Taiwan, bentuk serupa disebut sebagai “tjiang tiong hie” atau boneka telapak tangan. Bentuk inilah yang di Indonesia belakangan dikenal sebagai wayang potehi.

Tentang wayang potehi, David Kwa, seorang pemerhati budaya Tionghoa, menuliskan tentang bagaimana riwayat muasalnya. Menurut Kwa, sejarah wayang potehi diawali oleh Nio Peng Lin, seorang terpelajar di kota Quanzhou, pada paruh awal abad ke-17. Berulang kali gagal dalam ujian pegawai negeri, membuatnya berputar haluan, mencoba keberuntungan sebagai pembuat boneka sarung tangan, sekaligus melatih kepandaian untuk memainkannya. Tak sebatas membuat dan memainkan, dirintisnya pula serangkaian pertunjukan boneka, lengkap dengan musik dan nyanyian pengiringnya. Cerita rakyat dan cuplikan sejarah Tiongkok pun dikembangkan sebagai lakon yang ditampilkan dalam setiap pertunjukan.

Ketekunan Nio Peng Lin berbuah hasil. Penampilan unik berikut kisah-kisah menarik dari setiap pertunjukan bonekanya berhasil memikat hati setiap orang yang menyaksikan, hingga mendatangkan ketenaran yang meluas hingga seluruh pelosok Hokkian. Ia baru menyadari ramalan seorang tua yang pernah hadir dalam mimpinya dan menorehkan kata-kata "kong beng kui ciang siang" yang artinya "ketenaran dan kejayaan kembali ke telapak tangan". Sebuah isyarat yang sempat hanya dianggap sebagai bunga tidur dan diabaikannya, karena tetap saja tak membuatnya sukses menjadi pegawai negeri, belakangan disadarinya berbeda makna. Pertunjukan boneka pun menjadi mata pencaharian yang yang ditekuni hingga akhir hayatnya.

Sepeninggal Nio Peng Lin, pertunjukan boneka ini tetap lestari dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur. Seiring tradisi merantau warga Hokkian, seni pertunjukan ini pun turut menyebar luas, mengikuti arus migrasi menuju negeri-negeri di arah Laut Selatan (Lam-yang), seperti Taiwan, Malaysia dan Indonesia.

Di Indonesia, tak banyak catatan yang menjelaskan dengan lengkap bagaimana awal mula perkembangan wayang dari Negeri Tiongkok ini, meskipun naskah kuno seperti Nawaruci yang ditulis sekitar paruh pertama abad ke-14 sempat menyinggung adanya pertunjukan wayang Cina, sebagaimana tertulis; “Anggambuh, amancangah, allangkarn mwang awayang Cina”. Artinya, semasa dengan awal kemunculan di negeri asalnya pada awal abad ke-17, wayang potehi pun dengan segera menyebar hingga masuk ke wilayah Indonesia.

Agus Yuniarso untuk Kabare Magazine. Selanjutnya: Potehi Klasik Tersisa di Tanah Jawa (2).
Copyright © Galeri Agus Yuniarso - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.