Sabtu, 01 Januari 2011


Miniatur kompleks makam Pajimatan Imogiri yang terdapat di Museum Radya Pustaka, Solo. Miniatur serupa juga terdapat di Museum Sono Budoyo, Yogyakarta.

Dalam berbagai peradaban di seluruh penjuru dunia, tempat-tempat yang tinggi lazim diidentikkan dengan kemuliaan, keluhuran dan keabadian, disamping kedekatan dengan Sang Pencipta. Demikian pula halnya dengan Pajimatan Imogiri yang menjadi peristirahatan terakhir para raja dari Dinasti Mataram Islam.

Pajimatan Imogiri terletak di Desa Pajimatan, Kalurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, berjarak sekitar 17km arah tenggara Kota Yogyakarta. Kompleks pemakaman seluas sekitar 10 hektar ini terletak di atas Bukit Merak setinggi 35-100 meter dari atas permukaan laut. Lokasi makam harus ditempuh dengan meniti jalan mendaki yang cukup terjal, melintasi teras-teras berbatu yang memiliki sekitar 364 anak tangga.

Pajimatan Imogiri dibangun pada tahun 1645 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga Dinasti Mataram Islam. Di tempat ini pulalah kemudian Sultan Agung dimakamkan ketika wafat pada tanggal 6 April 1645. Makam Sultan Agung sendiri menjadi induk dari keseluruhan makam dan disebut Kasultanangungan. Posisinya berada di bagiah tengah paling atas.

Pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang melahirkan kekuasaan baru Kasultanan Yogyakarta yang terpisah dari Kasunanan Surakarta, Pajimatan Imogiri pun turut dibagi menjadi 2 bagian. Bagian sebelah barat dipergunakan sebagai makam raja-raja Kasunanan Surakarta yang dianggap lebih tua. Sementara bagian sebelah timur dipergunakan sebagai makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta. Semua raja-raja Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta disemayamkan di makam ini, kecuali Sri Sultan Hamengkubuwono II yang dimakamkan di Kotagede.

Pajimatan Imogiri mengalami pemugaran pada masa Sultan Hamengku Buwono VI dan Sultan Hamengku Buwono VII, dimulai sejak tahun 1890. Para pekerja pemugaran ini sebagian sengaja didatangkan dari Pulau Bali, sehingga dapat dipahami munculnya elemen dekoratif bernuansa Bali di sejumlah sudut makam.

Di Depan gerbang Makam Kasultananagungan terdapat 4 buah tempayan berukuran besar. Tempayan di sisi paling kiri bernama Nyai Danumurti yang berasal dari Sriwijaya (Palembang). Di sebelah kanannya diberi nama Kyai Danumaya yang berasal dari Aceh. Tempayan berikutnya bernama Kyai Mendhung, berasal dari Ngerum, Istambul (Turki). Sementara tempayan yang berada di sisi paling kanan bernama Nyai Siyem yang berasal dari Siam (Thailand). Keempat tempayan ini hanya dikuras setahun sekali pada bulan Sura (Jawa) atau bulan Muharram dalam penanggalan Islam. Prosesi setahun sekali ini dikenal sebagai Upacara Nguras Enceh.

Makam suci Pajimatan Imogiri dibuka setiap hari Senin jam 10.00-13.00, Jum’at jam 13.30-16.00, tanggal 1 dan 8 bulan Syawal jam 10.30-13.00, serta tanggal 10 bulan Besar jam 10.30-13.00. Selama bulan Pasa (Jawa) atau Ramadhan (Islam), makam ini ditutup untuk umum.

Teks & foto: Agus Yuniarso.
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

Subscribe
Boleh Juga Inc.