468x60bannerad

Rabu, 02 Mei 2012

Melirik Koleksi Batik di Balik Tembok Kraton

Sebagai sebuah mahakarya, batik telah menjadi bagian dari khasanah pusaka dunia yang pantas dibanggakan. Secara formal, keberadaannya bahkan telah diakui oleh UNESCO sebagai organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa, yang pada tanggal 29 November 2009 telah menetapkan batik sebagai Warisan Pusaka Budaya Kemanusiaan Lisan dan Tak Benda.

Bekerjasama dengan Museum Batik Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Pura Pakulaman dan Trah Hudiyana, pertemuan bulanan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia ‘Sekarjagad’ pada bulan April 2012 lalu menggelar pameran batik tradisional khas Yogyakarta, mengangkat tema “Pagelaran Maha Karya Pusaka Kemanusiaan Lisan dan Tak Benda Batik Tradisional Yogyakarta”. Pameran yang diselenggarakan di Pura Pakualaman dari tanggal 28-30 April 2012 ini secara khusus digelar untuk menyemarakkan Peringatan Hari kartini Tahun 2012 yang juga bertepatan dengan Peringatan 100 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Yang istimewa, pameran ini menampilkan mahakarya batik klasik khas Yogyakarta yang tergolong langka dari koleksi sejumlah bangsawan di Yogyakarta. Peristiwanya pun tergolong langka, karena untuk pertama kalinya koleksi pribadi yang sehari-harinya tersimpan di balik tembok kraton dipamerkan kepada masyarakat luas. Juga karena untuk pertama kalinya koleksi pribadi dari kerabat Kraton Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman dipersandingkan bersama dalam suatu ajang pameran.

Dalam kesempatan ini, Kraton Kasultanan Yogyakarta menampilkan sejumlah koleksi pribadi dari K.R.Ay. Pintoko Purnomo, K.R.Ay. Windyaningrum, K.R.Ay. Hastungkoro, K.R.Ay. Cipto Murti, G.K.R. Hemas, G.B.R.Ay. Murdokusumo, dan B.R.Ay. Hadikusumo. Sementara dari Pura Pakualaman ditampilkan koleksi pribadi dari G.B.R.Ay. Retno Martani Kusumonagoro, B.R.Ay. Retno Rukmini Tirtonagoro, B.R.Ay. Retno Windarni Projonagoro, B.R.Ay. Tjondrokusumo, serta B.R.Ay. Atika Prabu Suryodilogo.

Jajaran rapi koleksi batik tulis yang sebagian telah berusia lebih dari 50 tahun dan terawat dengan sangat baik ini, mampu membangkitkan kekaguman terhadap mahakarya anak bangsa. Lembaran-lembaran kain bercorak indah yang terlahir dari tangan-tangan terampil, penuh ketekunan serta ketelitian ini seakan menjadi saksi betapa tingginya cita rasa seni dan estetika budaya bangsa kita.

Karya-karya itu tak hanya indah, namun juga sarat dengan kisah dan makna filosofis. Salah satunya adalah motif batik Sari Makara Uneng koleksi B.R.Ay. Atika Suryodilogo dari Pura Pakualaman. Motif ini merupakan salah satu unsur dari gambar wedana renggan Sujalma Sari Makara Uneng yang ditandai dengan gambar gunung, perempuan bertubuh udang serta kupu-kupu. Wedana renggan ini ada dalam naskah Langen Wibawa, sebuah naskah koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman yang mengabadikan prosesi tarian yang digemari oleh Sri Paku Alam I – IV, menceritakan tentang betapa moleknya para penari istana di Pura Pakualaman kala itu yang tergambarkan dalam tarian Srimpi Nadheg Putri.

Sujalma Sari Makara Uneng bermakna ‘perempuan berlekuk tubuh indah yang membuat kasmaran’. Gambar kupu-kupu dimaknai sebagai proses metamorfosa para perempuan dari gunung yang turun menjadi penari istana. Mereka dipilih kemudian dididik sesuai tatanan di dalam istana sehingga lahir kembali sebagai seorang putri yang halus rupawan. Sikap sopan, luwes, lembut dan cepat tanggap, ditambah dengan paras yang elok menawan serta lekuk tubuh yang ideal menjadikan sang penari begitu dipuja dan dirindukan banyak orang.

Motif lain yang tidak kalah menarik adalah Kothak Parang Barong Purnam dan Kothak Kawung Naga Raja. Keduanya adalah koleksi G.K.R. Hemas dari Kraton Kasultanan Yogyakarta. ‘Purnam’ berasal dari kata voornaam dalam Bahasa Belanda yang berarti ‘nama depan’. Dari motif barong serta gambar mahkota, terlebih dengan adanya inisial ‘HB’, dapat dipahami jika corak ini sesungguhnya menyampaikan pesan yang menunjukkan identitas pemiliknya. Sementara motif Kothak Kawung Naga Raja menampilkan ornamen Naga Raja yang melambangkan keperkasaan, kesaktian dan kewibawaan, serta tergambar bentuk mahkota di sudut kotak. Sesuai adat, kedua motif tersebut hanya boleh dikenakan oleh seorang raja.

Acara ini diharapkan bisa menjadi momentum bagi perempuan Indonesia untuk memberdayakan dan mengembangkan diri dengan menggali nilai budaya dan kearifan lokal, termasuk batik. “Perempuan Indonesia harus mampu melindungi juga mengembangkan dan berperan aktif dalam upaya pelestarian dan pengelolaan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal”, demikian diungkapkan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Linda Amalia Sari Agum Gumelar, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh dr. Rohana Dwi Astuti, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Provinsi DIY.

Sementara Wakil Gubernur Provinsi DIY Sri Paduka Paku Alam IX, menekankan bahwa kerajinan batik tulis harus tetap dilestarikan dan dikembangkan. Kaum perempuan harus kembali untuk mencintai batik tulis. ”Batik printing boleh saja beredar. Tetapi yang mengandung nilai-nilai seni, sejarah, dan budaya adiluhung hanya ada di batik tulis”, demikian pernyataan Sri Paduka Paku Alam IX sebelum membuka resmi pameran ini.

Harus diakui, keberadaan batik tulis semakin tersisihkan dengan keberadaan batik printing. Ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia ‘Sekar Jagad’, Ir. Dra. Larasati Suliantoro Sulaiman menegaskan bahwa kaum perempuan seyogianya mulai menggunakan batik tulis dalam berbusana. Adalah ironis ketika batik Indonesia mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dari UNESCO, justru batik printing lebih merajai pasaran batik. ”Batik itu karya yang ditulis oleh tangan manusia, bukan dicetak. Kalau dicetak bukan batik namanya,” tegasnya.

Upaya pelestarian dan pengembangan batik tulis menjadi agenda penting yang tampaknya tidak boleh ditawar dan ditunda lagi. Pameran langka serupa ini perlu lebih sering diselenggarakan, khususnya di tempat lain yang jauh dari pusat denyut nadi aktifitas kebudayaan demi semakin tumbuh dan berkembangnya rasa cinta dan kebanggaan kita terhadap batik yang telah menjadi mahakarya bangsa Indonesia.

Teks: Agus Yuniarso untuk Kabare Magazine.
Copyright © Galeri Agus Yuniarso - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.