468x60bannerad

Minggu, 27 Januari 2013

Indonesia “Tempo Doeloe” di Lembar Kartu Coklat

Coklat adalah salah satu hidangan paling populer di dunia, baik dalam bentuk minuman maupun makanan. Sebagai minuman, coklat begitu sedap dinikmati dalam keadaan hangat maupun dingin. Coklat juga begitu lezat disantap sebagai makanan yang tersedia dalam berbagai bentuk, corak dan ramuan rasanya yang begitu unik.

Disamping citarasa dan kelezatannya yang khas, coklat juga dikenal berkhasiat memperbaiki suasana hati dan mempengaruhi munculnya hasrat bercinta.Karenanyalah kemudian muncul kebiasaan untuk saling berkirim coklat sebagai hadiah, baik sebagai ungkapan terima kasih, simpati, atensi maupun yang paling sering dilakukan adalah sebagai ungkapan rasa cinta dan kasih sayang.

Kebiasaan berbagi hadiah dengan coklat ditangkap dengan gesitnya oleh para pengusaha coklat sebagai salah satu gimmicks dalam memasarkan produknya. Di tahun 1868, Richard Cadbury, pengusaha coklat di Inggris mulai memperkenalkan sekotak coklat yang dikemas khusus sebagai kado Valentine, meski kebiasaan berbagi coklat sebagai kado Valentine sudah dilakukan orang Inggris sejak abad ke-17. Coklat juga lazim digunakan sebagai hadiah di Belgia. Ketika Jean Neuhaus menemukan ramuan coklat pralin di tahun 1912, segera saja produk baru ini menjadi salah satu hadiah yang paling populer di Belgia.

Masa-masa di sekitar pergantian abad ke-19 dan 20, coklat memang telah menjadi salah satu produk populer yang menjadi favorit masyarakat di berbagai penjuru dunia. Produsennya pun dikenal aktif dalam berpromosi. Begitu ketatnya persaingan, membuat mereka saling berlomba menciptakan materi promosi menarik untuk memikat hati para penikmat coklat.

Di Hindia Belanda kala itu, salah satu produk coklat yang banyak dikenal adalah Cacao & Chocolaad “A. Driessen” yang diimpor langsung dari Negeri Belanda. Pabriknya yang berlokasi di Rotterdam sudah berdiri sejak tahun 1820. Kakao mentah yang menjadi bahan bakunya didatangkan dari Suriname, negeri koloni Kerajaan Belanda di Amerika Tengah. Di penghujung abad ke-19, A. Driessen telah menjadi salah satu produsen coklat terbesar di Negeri Belanda. Sayang, pasca krisis pasaran kakao di tahun 1907 yang berlanjut dengan kegagalan di pasar saham pada tahun 1929, kejayaan A. Driessen terpaksa menyurut. Depresi ekonomi global di awal tahun 1930-an semakin memperparah kondisi perusahaan ini dan membawanya menuju kebangkrutan. Kejayaannya selama lebih dari satu abad pun berakhir ketika A. Driessen diambil alih oleh perusahaan coklat Breda Kwatta di tahun 1935.

Sebagaimana produk coklat lainnya, A. Driessen juga rajin berpromosi selama masa jayanya. Salah satu materi promosi yang begitu dikenal dan menjadi kejaran para kolektor adalah poster bergaya Art Nouveau karya Henri Privat-Livemont (1861-1936), seorang seniman dekorator asal Brussels, Belgia.

A. Driessen juga rajin menerbitkan serial kartu bergambar panorama dari seluruh dunia. Kartu berukuran mini ini disertakan dalam kemasan produknya. Yang istimewa, salah satu seri itu menampilkan sejumlah foto yang mengabadikan suasana di Hindia Belanda sekitar tahun 1920 hingga 1930an. Lebih dari 50 obyek ditampilkan dalam kartu yang bertuliskan “Wereld-Panorama ‘A. Driessen’ : extra serie Nederlandsch Oost-Indië” ini, dari potret, bangunan-bangunan penting, landmark kota, serta landscape dan panorama alam.

Dari judul-judulnya, bisa ditengarai identitas setiap obyek dalam foto-foto itu sekaligus melihat bagaimana keadaan negeri ini di masa lampau dan membandingkan dengan masa kini. Sebagian diantaranya tentu sudah banyak berubah, meski tak sedikit pula yang masih eksis di zaman ini, meski dengan nama, keadaan atau fungsi yang berbeda.

Diantara foto-foto terdapat beberapa potret yang menarik, seperti seorang Bupati dengan para bawahannya (Een regent met zijn ondergeschikten), Wedono dengan para bawahannya (Een wedono met zijn ondergeschikten), serta potret sebuah sekolah China dengan para guru dan komite sekolahnya (Chin. schoolkinderen met hun onderwijzers en schoolcommissie).

Ada pula foto Gereja Immanuel Jakarta yang dahulu bernama Willemskerk, Istana Negara Jakarta (Paleis van de Gouverneur-Generaal, Noordwijk, Batavia), Bangunan Lawang Sewu Semarang yang dahulu dipergunakan sebagai kantor Nederlandsch-Indische Spoorweg-Mattschapij (NISM), Jembatan Merah di Surabaya (Soerabaya, de Roode Brug), serta kantor pos dan kantor telepon di Surabaya tempo doeloe.

Suasana dan panorama alam antara lain diwakili oleh foto Kebun Raya Bogor (Botanische Tuin Buitenzorg), Lautan pasir di Gunung Bromo (Zandzee op den Bromo), danau kawah Gunung Ijen(Waterloop van het Idjen Kratermeer), serta air terjun Baong di Lawang, Jawa Timur, dan masih banyak lagi.

Obyek yang ditampilkan dalam kartu-kartu A. Driessen ini memang sebagian berada di pulau Jawa, yang didominasi oleh foto-foto yang diambil di Batavia, Semarang dan Jawa Timur. Meski penggambaran ini belum mewakili keadaan di Hindia Belanda secara keseluruhan, rasanya sudah cukup bermanfaat untuk mempromosikan kemolekan bumi Nusantara di dunia internasional pada masa lalu. Kartu-kartu A. Driessen itu juga menjadi arsip visual yang berharga di masa kini, memandu imajinasi untuk menjelajahi masa lalu, untuk memahami muasal dari kekinian yang kita miliki saat ini.

Teks: Agus Yuniarso untuk Kabare Magazine.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Galeri Agus Yuniarso - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.