468x60bannerad

Selasa, 02 Oktober 2012

Bukan Negeri Tirai Bambu

Dunia mengenal China sebagai Negeri Tirai Bambu. Meski julukan legendaris ini mulai pupus seiring keterbukaan dan modernisasi pemerintahannya, namun sebagai indentitas kultural, penyebutan ini tampaknya tak akan lekang tergerus jaman yang terus berubah.

Bambu, begitu lekat dengan kehidupan rakyat di negeri dengan jumlah penduduk terbesar di dunia ini. Tak semata karena luasnya areal dan ragam jenis tanaman bambu yang tumbuh disana. Pemanfaat bambu untuk memenuhi berbagai fungsi kehidupan pun telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Panda (Ailuropoda melanoleuca), mamalia khas negeri ini yang tak pernah lepas dari batang-batang bambu muda sebagai makanan pokoknya, seolah menjadi duta besar bagi negerinya. Bukan hanya dengan daya tarik bentuk dan rupa tubuhnya, namun juga dengan batang bambu yang selalu digenggam dan dikunyahnya.

Namun bambu bukan tumbuhan eksklusif daratan Asia, khususnya China. Di seluruh dunia, tercatat lebih dari 1.000 species bambu yang terkelompokkan dalam 80 genera. Seperlima dari keseluruhan species bambu itu ditemukan tumbuh di wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri ”hanya” ditemukan sekitar 60 jenis mambu, namun sebaran habitat pertumbuhannya sangat luas. Dari dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian hingga 300 meter diatas permukaan laut. Umumnya, tanaman ini ditemukan di tempat-tempat terbuka dan daerah yang bebas dari genangan air.

Meski tidak dominan, keragaman jenis bambu dengan karakteristiknya masing-masing sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di daerah pedesaan. Sejak dulu kala, raja dari keluarga rerumputan ini menjadi salah satu sumber alam penting yang telah dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup.

Hingga hari ini, bambu menjadi tanaman serbaguna yang memiliki begitu banyak fungsi dan manfaat. Ini tak terlepas dari karakteristiknya yang khas sehingga mudah untuk didayagunakan. Bambu dikenal memiliki batang yang ulet, kuat dan keras, namun tak terlalu sulit untuk dibelah dan dibentuk, sehingga mudah diolah.

Bentuknya yang lurus dengan permukaan rata juga memungkinkannya untuk dimanfaatkan menjadi berbagai barang dengan berbagai fungsi. Tak kalah penting, bambu juga cukup ringan, sehingga mudah untuk diangkut kemana saja. Bambu yang mudah tumbuh di hampir sembarang tempat mudah dijumpai dimana saja, sehingga harganya menjadi relatif murah.

Sebagai bahan bangunan, bambu utuh telah dipergunakan sebagai materi utama dalam berbagai macam konstruksi, dari rumah tinggal, gudang, saluran air, menara hingga jembatan gantung. Dalam bentuk potongan atau belahan, bambu dimanfaatkan sebagai elemen bangunan rumah tinggal, seperti struktur atap, dinding, langit-langit, lantai, tirai atau pagar. Dalam bentuk dan penggunaan yang lebih minimalis, secara fungsional bambu telah berubah bentuk menjadi berbagai perkakas rumah tangga, sementara secara estetis telah berubah wujud menjadi berbagai produk kerajinan. Di berbagai daerah, bambu bahkan berfungsi sebagai media ekspresif, menjadi bagian penting dari perangkat seni tradisional.

Ragam eksploitasi bambu sebagai bahan baku di penjuru Nusantara ini menggambarkan betapa beragamnya kearifan lokal dalam menciptakan ragam karya fungsional dan estetis dari bahan yang sederhana dan mudah dijumpai di lingkungan sekitarnya.

Sayang, meski menyimpan banyak potensi dan inspirasi bagi kehidupan manusia, latar belakang bambu yang berasal dari keluarga rerumputan ini acapkali dikesankan sebagai bahan baku yang lemah dan diremehkan, bahkan terkadang dianggap ndeso. Inilah salah satu faktor yang menghambat perhatian masyarakat umum dan Pemerintah untuk mengangkat pesona bambu di mata dunia.

Meski bukan Negeri Tirai Bambu, Indonesia sebenarnya memiliki potensi dalam mengelola bambu, mengingat tanaman jenis ini sangat banyak dijumpai di bumi Nusantara. Tak hanya bermanfaat sebagai pelestari lingkungan yang paling baik, bambu pun memiliki sejuta manfaat lainnya bagi kehidupan manusia. Dengan mengakomodasi dan mengembangkan keragaman kearifan lokal dalam mengolahnya, dapat dipastikan pesona bambu akan mampu mendapat tempat di hati masyarakat luas, bahkan menembus selera dan citarasa dunia.

Teks: Agus Yuniarso untuk Kabare Magazine.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Galeri Agus Yuniarso - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.