468x60bannerad

Minggu, 06 Januari 2013

Pematung Ulung dari Prumpung, Kisah Anak-Cucu Pemahat Borobudur

Misteri yang menyelimuti Candi Borobudur, barangkali sebanding dengan bilangan tahun usianya. Sejarah hanya mencatat di mana bangunan raksasa ini dibangun pada masa kejayaan Dinasti Syailendra, sekitar abad ke-8 Masehi. Selebihnya, tidak ada catatan yang pasti tentang keberadaannya.

Yang kini tampak hanyalah keelokan sebuah candi dengan tinggi lebih dari 30 meter, yang memiliki diameter alas sepanjang 120 meter. Bagian-bagian tubuhnya dihiasi lebih dari 500 buah patung, serta sekitar 1.500 panel relief seluas 2.500 meter persegi.

Misteri Candi Borobudur tak semata pada sosok bangunannya, namun juga dalam proses pembangunannya. Sulit membayangkan bagaimana bangunan ini tercipta, mengingat teknologi yang ada pada masa itu. Entah berapa banyak waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk memindahkan, memotong dan memberikan karakter pada sekitar 1.600.000 blok batu andesit yang menjadi bagian tubuh Borobudur.

Yang mungkin bisa dibayangkan adalah keramaian pada masa itu. Setidaknya, inilah imajinasi masyarakat Dusun Prumpung yang memiliki cara tersendiri untuk menceritakan sejarah keberadaan dusun yang mereka tempati.

Dusun Prumpung, yang kini bernama Prumpung Sidoharjo, terletak di Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dalam lima dasawarsa terakhir, di dusun kecil ini berkembang kesenian pahat batu andesit yang mungkin merupakan satu-satunya di Indonesia, khususnya dalam penciptaan replika barca, relief, gapura, serta miniatur candi bernuansa Hinduisme dan Budhisme.

Mungkin memang bukan kebetulan jika komunitas seni pahat batu ini terletak tak jauh dari Gunung Merapi dan Candi Borobudur. Batuan yang mereka pahat berasal dari lereng Merapi. Dan kualitas karya mereka tak terpaut jauh dari keelokan seni pahat yang menghiasi Candi Borobudur.

Jika secara imajiner ditarik lintasan lurus dari kaki Gunung Merapi ke arah Candi Borobudur, maka Dusun Prumpung akan tepat berada pada titik tengahnya. Inilah lintasan sakral yang sangat dibanggakan, sekaligus menjadi salah satu kebetulan yang unik jika dipandang dari latar belakang sejarah pembangunan Borobudur, serta kisah-kisah yang berkembang turun-temurun dalam komunitas ini.

Sebagian masyarakat Prumpung meyakini bahwa bebatuan yang membangunan Candi Borobudur berasal dari Gunung Merapi. “Dan dusun inilah yang menjadi tempat persinggahan para pekerja, seniman dan arsitek pembangunan candi itu,” tutur Dulkamid Jayaprana, tokoh masyarakat Dusun Prumpung.

Dalam imajinasi mereka, proses panjang pembangunan Candi Borobudur telah melahirkan suasana semarak di dusunnya, lebih dari seribu tahun yang lalu. Perilaku simpatik para pendatang disambut keramahtamahan para pribumi. Gotong royong tercipta sebagai perwujudan dari interaksi sosial yang sangat dinamis. “Sejak saat itulah masyarakat pribumi mulai mengenal seni memahat batu,” tambah Dulkamid.

Jika masyarakat Prumpung telah mengenal kesenian pahat batu sejak lebih dari seribu tahun yang lalu, mengapa baru dalam lima dasawarsa terakhir kesenian ini menunjukkan gejala perkembangannya? Jawabnya sederhana saja; beragam riwayat dapat berkembang dalam setiap komunitas dan hanya mereka sendirilah yang memahami dan menghayati makna dan kebenarannya.

Sejarah jelas bukan hasil imajinasi. Sejarah harus dicatat dan dikabarkan. Kisah turun-temurun itu, mungkin dapat memperjelas sebagian dari ribuan misteri yang menyelimuti Candi Borobudur. Namun bukan mustahil justru akan menambah misteri itu sendiri. Masyarakat Prumpung, sebagaimana dituturkan Dulkamid Jayaprana, memiliki cara tersendiri dalam menuturkan sejarah keberadaannya.

Sumber: Kabare Magazine, edisi Desember 2012 (Teks: Agus Yuniarso; Foto: Albert).
Copyright © Galeri Agus Yuniarso - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.