468x60bannerad

Jumat, 23 Agustus 2013

Bergaya dengan Sepeda, “Let’s Back to Bike!”

Let’s back to bike!” Demam bersepeda atau gowes tampaknya semakin mewabah di Indonesia. Tak sebatas di kalangan masyarakat biasa. Tokoh ternama, selebriti hingga kalangan sosialita pun seolah terjangkiti virus bersepeda.

Sepeda tak lagi sekedar tunggangan. Sepeda telah beranjak menjadi bagian dari gaya hidup. Muncul dengan berbagai model dan pilihan kualitas, sepeda menjadi salah satu simbol kemapanan dan gengsi pemiliknya. Harganya pun bisa mencapai ratusan juta rupiah.

It’s not about having a bicycle, but if you have an expensive bicycle then you will get more pleasure to ride it,” demikian barangkali kilah para pemilik sepeda mahal. Orang Jawa bilang, ono rego ono rupo. Semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan, sejajar pula dengan kualitas produk yang ditawarkan. Dan sepeda dengan harga selangit tak lagi hanya dimiliki oleh pebalap sepeda profesional. Sepeda biasa pun kini menggunakan ukuran dan kualitas terbaik sebagaimana yang biasa dipakai di arena olah raga.

Dua sepeda yang berdiri sejajar, selintas bisa terlihat sama. Dibalik itu, salah satunya bisa berharga sekian kali lipat dibanding sepeda di sebelahnya. Perbedaan asesori bisa jadi membedakan satu sepeda dengan sepeda yang lain, dan menciptakan selisih harga. Asesori bisa membuat selisih harga hingga berlipat ganda? Tentu saja tidak. Meski fungsi dan penampilan relatif sama, selisih harga yang tinggi bisa terjadi karena adanya produk massal dan produk terbatas yang diproduksi secara hand-made dan menawarkan sesuatu lain yang tak tertawarkan di produk massal.

Untuk menentukan kualitas sebuah sepeda, setidaknya ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu: kinerja, daya tahan dan estetika. Kinerja menyangkut geometri dan kemampuannya untuk memberikan rasa nyaman saat dikendarai. Daya tahan menyangkut bahan dan kemampuannya untuk menjelajahi berbagai medan, sesuai dengan peruntukannya. Sementara estetika menyangkut penampilan dan keindahan visualnya, serta karakteristik yang sesuai bagi siapa yang mengendarainya. Kombinasi antara kinerja, daya tahan dan estetika, otomatis akan menentukan tinggi rendahnya harga sepeda yang ditawarkan.

Meski berbagai jenis sepeda ditawarkan dengan harga selangit, selalu saja ada yang membelinya. Lalu, seperti apa sajakah sepeda-sepeda termahal di dunia?

The Aurumania’s Gold Bike Crystal Edition, boleh jadi adalah sepeda paling mahal di dunia yang dibandrol dengan harga € 80.000, setara dengan US$ 114,464 atau lebih dari 1 milyar rupiah. Produsennya membalut setiap bagian sepeda ini dengan emas 24 karat.

Tak sebatas pada rangka, bahkan hingga jeruji-jerujinya. Sadel dan pegangan pada setang pun diberi sentuhan akhir dengan kulit asli berkualitas tinggi. Melengkapi kemewahannya, sepeda ini juga ditaburi dengan 600 kristal Swarovski di seputar logo yang terdapat pada sudut-sudut rangkanya. The Aurumania’s Gold Bike Crystal Edition adalah produk terbatas yang hanya tersedia sebanyak 10 unit di seluruh dunia. Produk pertamanya dibeli oleh kolektor asal London yang kemudian memajangnya sebagai penghias dinding rumahnya.

Gelimang perhiasan juga tampil di tubuh Madone 5.9 SL-7 Diamonds, sepeda impian yang menjadi proyek kolaborasi antara Nike, Trek Bikes, Lenny Futura (perancangnya) serta Alan Friedman (desainer perhiasan). Sepeda ini hanya diproduksi 1 unit saja, untuk menandai 7 kemenangan berturut-turut Lance Armstrong, pebalap sepeda profesional Amerika dalam ajang bergengsi Tour de France (1999-2005). Rangka sepeda dibalut emas serta dihiasi dengan 7 butir berlian buatan tangan, masih ditambah dengan 300 biji berlian putih. Sepeda ini dijual dalam sebuah lelang di markas Lance Armstrong pada tahun 2005 dan laku terjual senilai US$ 75.000.

Sepeda mahal tak harus bergelimang perhiasan. Litespeed Blade misalnya. Tanpa imbuhan emas maupun berlian, sepeda ini ditawarkan dengan harga fantastis, mencapai kisaran US$ 38.000! Produsen mengklaim Litespeed Blade sebagai sepeda masa depan. Konon, berkat material ringan yang dipadu dengan bentuk aerodinamis serta kecanggihan teknologinya, akan membuat pengendaranya selaksa mengemudikan motor balap. Intinya, sepeda mewah ini menawarkan pengalaman bersepeda yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Harga “sedikit lebih murah” ditawarkan oleh KGS Bikes dengan produknya KGS Tier 3. Sepeda rancangan Kevin Saunders ini diproduksi dengan material terbaik serta konstruksi yang sangat detail. Nama “Tier 3” yang disandangnya menyesuaikan dengan harga yang ditawarkan sebesar US$ 30.000. KGS sendiri dikenal sebagai studio desain untuk sepeda yang diproduksi hanya untuk pesanan khusus pebalap sepeda, atlet triatlon, serta perseorangan. Komponennya sendiri bisa berasal dari berbagai merek seperti Parlee, Passoni, Cyfac, Eriksen, Co-Motion dan Zinn, para pemilik fitur komponen terbaik di dunia.

Bagi Anda yang sangat mementingkan penampilan, Chanel Bike Limited Edition bisa menjadi pilihan. Sepeda mewah modis ini hanya diproduksi sebanyak 50 unit di seluruh dunia. Ditawarkan dengan kisaran harga antara US$ 17.000 hingga US$ 28.000, lengkap dengan berbagai asesori yang sangat modis. Maklum saja, sepeda ini diluncurkan oleh Chanel, salah satu merek fesyen dan produk asesori ternama.

Selain kelima sepeda diatas masih ada sejumlah sepeda yang masuk dalam deretan sepeda termahal di dunia, seperti Celebrity Gold Bike dengan kerangka berlapis 24 karat seharga lebih dari 4000 Euro. juga enigma Elle Bicycle yang bertahtakan berlian karya perancang perhiasan kondang Nicholas James, Koga Kimera yang dirancang untuk Tim Olimpiade Belanda, serta Beru F1 Systems Factor 001 Bicycle, sepeda seharga 20.000 Poundsterling yang hanya memiliki berat 7 kilogram.

Nah, sepeda manakah pilihan Anda? Mungkin, tak terlampau penting untuk memilih sepeda mana yang tepat untuk Anda. Lebih penting untuk memilih tetap bersepeda, apapun sepedanya. Let’s back to bike!

Teks: Agus Yuniarso untuk Kabare Magazine.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Galeri Agus Yuniarso - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.