468x60bannerad

Senin, 29 Januari 2018

Rumpun Singkong di Tanah Surga

Masih ingat lagu “Singkong dan Keju”? Karya Ari Wibowo yang pernah begitu populer di tahun 1980-an ini dengan jenaka menggambarkan realitas perbedaan kelas sosial yang ada di Indonesia yang ada kala itu yang boleh jadi tak banyak berubah di jaman ini.

Singkong dan keju, dua jenis bahan makanan yang berbeda rupa dan citarasanya, dipergunakan sebagai analogi bagi dua kondisi yang berbeda. Keju diposisikan identik dengan budaya asing yang bergelimang gengsi dan kemewahan, sementara singkong diidentikkan dengan citra pribumi yang lekat dengan keterbatasan, keterbelakangan, bahkan kemelaratan. Bagai tergambar di sekeping ulang logam, tak hanya berbeda, keduanya bahkan bertolak belakang.

Jika ditanya “Manakah yang lebih Indonesiawi, singkong atau keju?”, sebagian orang boleh jadi akan menjawab dengan tepat tanpa berfikir seribu kali. Singkong-lah jawabnya, karena memang demikianlah realitas pencitraannya. Padahal, dalam sudut pandang etnosentris, singkong dan keju memiliki realitas yang sama. Meski lebih membumi dan merakyat, singkong pun ternyata tak beda dengan keju, sama-sama bukan kultur asli Nusantara.

Singkong atau biasa dikenal juga dengan nama ketela (Manihot utilissima) merupakan tanaman tahunan tropika dan sub tropika yang bersal dari keluarga Euphorbiaceae. Hasil utamanya berupa umbi dikenal luas sebagai salah satu makanan pokok penghasil karbohidrat di samping beras dan jagung yang merupakan makanan pokok khas masyarakat Indonesia.

Di belahan dunia lain pun demikian, menjadi salah satu bahan makanan pokok yang dominan, terutama di berbagai negara berkembang yang beriklim tropis. Tanaman ini lazim tumbuh hingga bentang area 30 derajat di sisi utara dan selatan garis khatulistiwa, pada ketinggian hingga 2.000 meter diatas permukaan air laut, pada kisaran suhu antara 18 hingga 25 derajat Celcius, dengan curah hujan antara 50 hingga 5.000 milimeter per tahun. Kemampuannya untuk tumbuh dan bertahan hidup di lahan yang relatif kering membuatnya seringkali diandalkan sebagai bahan makanan cadangan, terutama di wilayah yang curah hujannya tidak dapat diandalkan.

Singkong dikenal dan dijumpai pertama kali di bagian selatan dan tengah benua Amerika dan mulai dibudidayakan sejak masa prasejarah. Sejumlah bukti arkeologis menunjukkan bahwa tanaman ini sudah tumbuh di Peru sekitar 4.000 tahun yang lampau dan di Meksiko sekitar 2.000 tahun yang lampau, sementara bukti budidayanya di masa prasejarah dijumpai di seputar wilayah Brasil dan Paraguay.

Dari Benua Amerika, ‘nenek moyang’ singkong pun kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, tepatnya pasca kedatangan Christoper Columbus di benua itu di penghujung abad ke-15. Dalam beberapa abad kemudian, tanaman ini sudah mulai dikenal di pantai barat Afrika serta wilayah Zaire, berkembang ke wilayah Madagaskar dan Zanzibar di Afrika Timur hingga di sebagian wilayah India. Sekitar tahun 1850-an, singkong telah dijumpai tumbuh merata pada daerah tropis di luar benua Amerika, terbentang dari wilayah Afrika hingga Asia Tenggara.

Dalam tinjauan etimologi, “ketela” sebagai nama lain singkong, konon berasal dari istilah “castilla”, nama sebuah kerajaan di abad pertengahan yang menjadi pendahulu Kerajaan Spanyol . Dahulu, istilah ini lazim dipergunakan sebagai penyebutan lain bangsa Spanyol yang bersama bangsa Portugis menyebarluaskan bibit tanaman ini ke penjuru dunia, termasuk ke seputar wilayah Nusantara. Meski sudah mulai diperkenalkan oleh kedua bangsa penjelajah ini sejak sekitar abad ke-16, singkong baru mulai dibudidayakan secara komersial di wilayah Indonesia sekitar tahun 1810-an, pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Saat ini, tanaman singkong umumnya mampu tumbuh dan beradaptasi sehingga dengan mudah dapat dijumpai di hampir seluruh pelosok Indonesia. Dalam perkembangannya, setiap daerah pun memiliki istilah lokal yang khas dalam menyebut tanaman perdu ini. ‘Singkong’ sendiri semula adalah istilah yang dipergunakan oleh orang Sunda, disamping istilah ‘sampeu’ yang juga dipakai untuk menyebutkannya. Orang Melayu menyebutnya sebagai “ketela pohon” atau “ubi kayu” dan orang Jawa menamainya dengan istilah “telo” atau “pohung”. Dalam Bahasa Sangihe, ketela disebut dengan istilah “bungkahe”, sementara dalam Bahasa Tolitoli disebu dengan istilah “kasubi”.

Domestikasi tanaman singkong di bumi Nusantara telah berlangsung selama berabad-abad hingga mempengaruhi bentuk atau penampilannya seperti yang bisa dilihat pada saat ini. Cikal bakal singkong yang pertama kali ditanam di Nusantara, boleh jadi tak dapat lagi ditemukan di alam bebas. Yang masih bisa dijumpai adalah berbagai jenis varietas lokal turunan yang bentuk dan tampilannya berbeda dengan nenek moyangnya.

Perkembangan jenis tanaman ini juga tak lepas dari local genius yang penuh kreasi dalam menyiasati keterbatasan menjadi kesempatan yang lebih baik. Salah satu contohnya adalah jenis singkong legendaris yang dikenal dengan nama Singkong Mukibat. Jenis singkong ini diberi nama dengan mengabadikan sosok yang berhasil membudidayakannya.

Pak Mukibat (1903-1966) adalah seorang petani asal Desa Ngadiluwih di wilayah Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Berkat ketekunan dan kreatifitasnya, ia berhasil ‘mengawinkan’ dua jenis singkong yang berbeda, yaitu jenis singkong biasa (Manihot esculenta) dan jenis singkong karet atau gendruwo (Manihot glaziovii). Jika singkong biasa hanya tumbuh antara 1,5 hingga 3 meter, pohon singkong karet bisa mencapai tinggi hingga 10 meter dengan daunnya yang tumbuh lebar dan lebat. Sayangnya, jenis singkong karet ini tidak menghasilkan umbi. Pak Mukibat berupaya menyambung singkong biasa dengan singkong karet, bukan dengan perkawinan silang, namun menggunakan teknik penempelan mata tunas dari kedua batang yang berbeda jenis itu.

Setelah berulang kali melakukan uji coba, upaya Pak Mukibat pun membuahkan hasil dengan lahirnya jenis pohon singkong baru yang menghasilkan umbi lebih banyak, lebih besar dan lebih berat. Namanya pun melekat abadi bersama jenis pohon singkong istimewa hasil temuannya ini.

Kini, tak hanya nama dan jenis singkong yang kemudian berkembang beraneka rupa. Pemanfaatan berikut produk olahannya pun berkembang dalam banyak macam dan ragamnya. Di Indonesia, sebagaimana di berbagai negara di seputar wilayah khatulistiwa, umbi singkong menjadi bahan makanan pokok alternatif disamping beras dan jagung, baik dengan diolah langsung maupun sebagai bahan baku. Umbi singkong yang dapat dimakan mentah dapat menjadi sumber energi yang kaya akan karbohidrat. Bagian dalam umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan dengan kandungan utama berupa pati dengan sedikit glukosa sehingga rasanya sedikit manis. Selain umbi, daunnya pun dapat dimanfaatkan sebagai sayuran yang menjadi sumber protein karena kandungan asam amino metionina yang dimilikinya.

Pemanfaatan singkong tak sebatas sebagai bahan makanan pokok. Dengan beragam cara pengolahannya, singkong dapat dikonsumsi dalam berbagai cara dan citarasa yang beragam. Setiap daerah pun memiliki ciri dan sentuhan yang berbeda-beda hingga melahirkan folklore makanan tradisional yang beraneka rupa. Meski serupa, tapi tak selalu sama.

Fermentasi menjadi salah satu cara pengolahan singkong yang populer, dimana tape singkong menjadi produk akhirnya. Selain dapat dikonsumsi secara langsung, tape singkong ini dapat diolah kembali menjadi berbagai makanan ringan seperti rondho royal dan colenak, atau dicampur dengan makanan atau minuman lainnya, seperti kolak, es cendol, es campur atau es doger. Di Jawa Barat, tape singkong ini dikenal dalam Bahasa Sunda dengan istilah peuyeum. Tape kering menjadi buah tangan khas yang populer di daerah Purwakarta dan Subang yang dikenal sebagai peuyeum gantung, sesuai dengan cara menjajakannya yang digantung. Di Jawa Timur, tape singkong lebih dikenal dengan istilah tape pohung dengan pusat penghasilnya berada di seputar Bondowoso dan sekitarnya.

Selain melalui proses fermentasi, hasil olahan singkong pun terbilang sangat beragam. Di Jawa saja, terdapat begitu banyak jenis makanan tradisional yang memanfaatkan singkong sebagai bahan dasarnya, baik yang berasal dari pengolahan langsung, maupun yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji, tepung yang terbuat dari umbi singkong. Sebut saja beragam jenis gethuk, sawut, gathot, thiwul, growol, bengawan solo, cenil, oyol-oyol, horok-horok, dan sebagainya.
Selain menjadi bahan baku makanan, perkembangan teknologi pengolahan telah memungkinkan singkong menjadi produk industri seperti tepung tapioka, alkohol, glukosa, aseton, dekstrin, etanol, gasohol, dan sebagainya. Singkong juga banyak diolah sebagai bahan baku beragam industri, dari obat-obatan dan kosmetika, menjadi bahan baku perekat, pasta, karamel, permen karet, hingga pakan ternak.

Singkong, tampaknya memang tak bisa dipandang sebelah mata. Di tingkat dunia, hasil bumi ini telah menjadi komoditi perdagangan yang sangat potensial. Pada tahun 2002, produksi singkong dunia ditaksir mencapai angka 184 juta ton. Sebagian besar diantaranya dihasilkan di Afrika, Amerika Latin dan Kepulauan Karibia. Menarik untuk dicatat bahwa pada tahun 2008, Indonesia telah menduduki posisi ke-3 dari total produksi singkong dunia, dibawah Nigeria dan Brazil, dengan total produksi sebanyak 24.009.600 ton.

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman …” Sepotong pujian kemakmuran yang didendang oleh Koes Plus dalam lagu ‘Kolam Susu’ di tahun 1970-an ini, semoga memupuk kembali kebanggaan kita akan anugerah Nusantara yang begitu subur dan menjanjikan limpahan kemakmuran ini. Bukan kebanggaan sebagai tempat dimana segala hal berasal, tetapi sebagai sebuah lokus yang menjadi titik temu dalam persilangan budaya, dimana ragam budaya dari penjuru dunia berbaur harmonis dengan kearifan lokal dan melahirkan turunan khas yang terjaga lestari.

Rumpun singkong yang tumbuh subur di tanah surga ini, hanya secuil contoh dimana sesuatu yang tampaknya sepele, ternyata tak dapat dipandang sebelah mata, tergantung bagaimana kita merawat dan menyikapinya.

Teks: Agus Yuniarso untuk Kabare Magazine.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Galeri Agus Yuniarso - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.